Translate

Tampilkan postingan dengan label Seputar Dakwah Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Dakwah Kampus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2020

Press Release : ASEAN (Al-Mudarris Stay Close With Al-Qur'an)



Banda Aceh, 29 Mei 2020Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan karunianya. Alhamdulillah telah dilaksanakannya program ASEAN (Al-Mudarris Stay Close With Al-Qur'an) ke-2 dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan yang diselenggarakan oleh bidang Kaderisasi UKM LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) Al-Mudarris FKIP Unsyiah melalui via grup WhatsApp dan ditujukan kepada siapa pun yang ingin bergabung (bersifat Umum) dengan mengikuti segala syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan. Program ini berlangsung selama 28 hari, dimulai dari awal hingga hari ke-28 Ramadhan. Tepatnya pada Jumat, 24 April 2020 s.d. Kamis 21 mei 2020.

Mekanisme program ini, dikarenakan menggunakan via grup WhatsApp, maka peserta dibagi menjadi 6 grup. Setiap grup beranggotakan 33 peserta dan dipandu oleh 2 orang PJ dari pihak panitia (1 ikhwan dan 1 akhwat). Adapun PJ setiap grup tersebut yaitu: Ikhwan (Andhika Sing Wicaksana, Muntazul Fikri, Rafif Rizqullah Mainaky, Syarif Hidayat, Syahrizal Albar, Muhammad Idwar Riski) dan Akhwat (HumairaArta MaiselaViezar Ayu AshyvaPutri Ashfi RaihanKiki RahayuMeisya Tiara).

Jumlah peserta yang mengikuti program ASEAN ini sebanyak 198 orang. Namun, tidak semua peserta aktif hingga akhir program, hanya sebagian saja yang bertahan hingga akhir. Peserta yang mendaftar tidak hanya berasal dari Aceh saja, melainkan hampir setiap Provinsi di Indonesia, serta diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa/i,  dosen, hingga masyarakat umum ikut andil dalam program ini. 

Tujuan diselenggarakan program ASEAN ini adalah:

  1. Mendekatkan diri kepada Allah SWT. 
  2. Memperbanyak tilawah dan mengkhatamkan Al-Qur’an selama bulan Ramadhan. 
  3. Tidak lalai dengan duniawi. 
  4. Meningkatkan Semangat dalam beribadah dan berfastabiqul khairat. 
  5. Sebagai pengingat/alarm untuk kita agar tetap semangat dan istiqamah dalam mengkhatamkan Al-Qur’an. 
  6. Suatu gerakan khatam Al-Qur’an di masa Pandemi Covid 19
  7. Menambah teman baru dan suasana baru

Adapun di penghujung program ini, pihak panitia juga menyediakan doorprize untuk salah satu peserta terbaik ASEAN atas nama Muhammad Ayash Mujahidullah dari grup 2 ASEAN yang berasal dari Aceh Besar, instansi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Dan bagi peserta yang belum menjadi peserta terbaik juga diberikan apresiasi berupa e-sertifikat. 

Dengan adanya program ini, diharapkan kepada peserta agar dapat terus meningkatkan semangatnya dalam mengkhatamkan Al-Qur'an serta tetap istiqamah dalam menjalankannya. 

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad [38]: 29).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif laam miim’ itu satu huruf, akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi no. 2915. Dinilai shahih oleh Al-Albani).

 

Baca juga:


Senin, 11 Mei 2020

Press Release: TALKSHOW BEASISWA

Banda Aceh, 11 Mei 2020Minggu, 10 Mei 2020, melalui grup WhatsApp telah berlangsung Talkshow Beasiswa yang bertemakan Get Your Dream; Everyone Can Get A Scholarship yang didakan oleh Bidang Akademik dan Profesi UKM Lembaga Dakwah Fakultas Al-Mudarris FKIP Unsyiah. Acara ini ditujukan khususnya untuk para Mahasiswa/i di Indonesia, dan umumnya untuk Pelajar SMA/MAN sederajat yang akan memasuki dunia perkuliahan.

Acara ini dipandu oleh Riski Maulidy Putra (Mahasiswa Pendidikan Fisika Tahun 2018 Universitas Syiah Kuala) dan Rafif Rizqullah Mainaky (Mahasiswa Pendidikan Sejarah Tahun 2018 Universitas Syiah Kuala). Adapun pemateri yang mengisi Talkshow Beasiswa ini merupakan Mahasiswa/I FKIP Unsyiah yang berprestasi baik di bidang akademik maupun non akademik, yaitu:

Pemateri 1: Durratul Baidha, penerima Beasiswa Bidikmisi.

Pemateri 2: Gufron Ginting, penerima Beasiswa ETOS ID.

Pemateri 3: T. Fhonna Rizki, penerima Beasiswa PPA.

Pemateri 4: Tria Suci Faradila, penerima Bright Scholarship.

Adapun jumlah peserta yang mengikuti Talkshow Beasiswa ini sebanyak 399 Orang yang berasal dari hampir setiap Provinsi di Indonesia. Mulai dari Provinsi Aceh sampai Provinsi wilayah Indonesia bagian Timur.

Acara ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait beasiswa kepada para Mahasiswa/i dan para Pelajar yang akan melanjutkan pendidikan ke Universitas impian namun mempunyai kendala biaya, juga teruntuk kepada Mahasiswa atau Pela.jar yang mempunyai tekad untuk mendapatkan beasiswa dengan Pengetahuan, skil dan kemampuan yang dimiliki. Dengan mengikuti Talkshow ini, diharapkan para peserta dapat mengetahui gambaran dari proses memperoleh beasiswa melalui para pemateri. Para peserta juga terlihat antusias mengikuti acara, hal ini terlihat dari banyaknya para peserta yang aktif saat sesi tanya jawab berlangsung. Acara pun berakhir dengan pembagian file Notulensi dan sertifikat kepada para peserta di grup.

            “Terimakasih atas informasi dan ilmunya kakak-kakak dan abang-abang, semoga bisa bermanfaat bagi kami para pendengar. Serta bisa menjadi penerima beasiswa seperti senior-senior semua, aamiin”, ucap salah satu peserta di akhir acara, yang berasal dari STAI Tapaktuan, Aceh.

Pesan penting yang dapat diambil dari Talkshow ini, salah satunya adalah: “Jangan pernah berhenti untuk mencoba memperoleh beasiswa, meski telah gagal berulang kali. Karena sebenarnya, kegagalan adalah saat kita berhenti untuk mencoba.”


Baca juga:

Sabtu, 21 Maret 2020

FORUM STUDI ISLAM (FOSI) 2020

 

UKM LDF Almudarris memiliki enam bidang yang masing-masing bidangnya menjalankan program kerja yang bermacam ragam, termasuk di dalamnya Bidang Kaderisasi. Bidang Kaderisasi khusus melaksanakan program-program yang sifatnya internal, seperti pendataan dan pemberdayaan anggota. Selanjutnya bidang kaderisasi juga menangani kegiatan perekrutan anggota baru yang tertuang dalam kegiatan Forum Studi Islam (FOSI). Fokus dari kegiatan FOSI adalah pada perekrutan dan pembinaan, sehingga estafet dakwah di kampus FKIP Unsyiah dapat terus terlaksana.
Kepengurusan tahun ini pelaksanaan kegiatan FOSI dilaksanakan selama dua hari yaitu pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 7-8 Maret 2020 bertempat di Auditorium lantai dua gedung FKIP Unsyiah (Indoor) dan lingkungan kampus Unsyiah (Outdoor). Adapun tema FOSI kali ini adalah Eksplorasi Potensi Diri dengan Karakter Islami Menuju Generasi Rabbani dengan sasarannya adalah seluruh mahasiswa aktif FKIP Unsyiah, khususnya mahasiswa tahun angkatan 2017-2019.

Tujuan dari kegiatan ini antara lain yaitu:

  1. Memperbaiki pola pikir mahasiswa bahwa kuliah bukanlah sekedar belajar didalam ruangan.
  2. Membuka cakrawala mahasiswa tentang kondisi islam kontemporer, dan memberikan simulasi pemecahan masalah umat kontemporer.
  3. Menyediakan wadah dan sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri di bidang dakwah kampus.
  4. Membentuk generasi muda yang berlandaskan nilai-nilai dan perjuangan islam.
  5. Memberikan pemantapan kepemimpinan melalui Leadership Training kepada mahasiswa.


Kegiatan FOSI berbentuk pelatihan kepemimpinan, diskusi dan simulasi aksi. Pelatihan yang dilaksanakan adalah pelatihan kepemimpinan (Leadership Training). Diskusi yang dilaksanakan adalah diskusi terkait permasalahan dakwah kontemporer serta peran generasi muda islam dalam menyikapi hal tersebut. Simulasi aksi yang dilaksanakan adalah realisasi sikap dan perbuatan yang sesuai dengan materi kepemimpinan yang diberikan. Setiap kegiatan tersebut dibimbing langsung oleh trainer, ustadz dan pemateri yang handal. Berikut merupakan meteri yang sampaikan pada kegiatan FOSI 2020:

  • Materi 1: Mengapa harus ikut Almudarris? dengan Pemateri: Muhammad Nazar, S.Pd, MSCST 
  • Materi 2: Ukhuwah islamiah dan amal jama’i dengan Pemateri: Jalaluddin, ST., MA
  • Materi 3: Urgensi dakwah kampus dan kepemimpinan dengan Pemateri: Shibghatullah Arrasyid, S.Pd
  • Materi Outdoor: Semangat di jalan dakwh dengan Pemateri: Muhammad Dekar, S.Pd., M.Si




Muhammad Haris selaku ketua panitia tentunya berharap acara FOSI 2020 berjalan dengan lancar, sangat banyak waktu, pikiran bahkan tenaga untuk mempersiapkan FOSI. Mulai dari Open Recruitment dengan menjaga posko pendaftaran bersama panitia-panitia lain, wawancara, sampai pada hari H panitia tetap terus bekerja keras demi menyukseskan acara FOSI 2020. Tanpa ridho Allah Swt  serta dukungan dan sokongan dari alumni juga pihak-pihak lain yang tidak bisa di sebut satu-persatu tentunya FOSI 2020 akan tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Maulana Yusuf selaku penanggung jawab kegiatan sekaligus Ketua Umum UKM LDF Almudarris sangat berterima kasih kepada seluruh panitia yang sudah bersusah payah dan bekerja keras untuk menyuksesakan FOSI 2020. “sangat banyak potensi Almudarris kedepan, dari hasil tes wawancara yang dilalui oleh peserta FOSI bermacam ragam karakter yang saya temukan, seperti semangat yang tinggi, rasa peduli, rasa ingin tahu, rasa memiliki, rasa penasaran, bahkan mempunyai harapan yang nantinya akan menjadi seorang pemimpin di masa yang akan datang. Ini adalah semangat yang tidak boleh di sia-siakan” ujar beliau.
FOSI 2020 diresmikan/dibuka langsung oleh Bapak Dekan FKIP Unsyiah yaitu Bapak Prof. Dr. Djufri, M.Si. beliau juga mengatakan bahwa Almudarris mempunyai potensi yang sangat besar, sebab banyak jurusan yang terdapat didalamnya, sehingga apabila bisa dikombinasikan maka akan munculah ide-ide yang cemerlang yang tentunya dapat bermanfaat untuk orang banyak. Beliau juga menegaskan bahwa jadilah manusia yang mempunyai komitmen, janganlah seperti buih dilautan yang terombang-ambing tak tentu arah.


Alhamdulillah jumlah peserta FOSI 2020 yang terekrut sebanyak 235 orang, Insyaa Allah dengan banyaknya jumlah tersebut harapannya dapat terus berpartisipasi dalam setiap kegiatan Almudarris serta tidak ada kata mudur jika perintah dakwah sudah menyeru. Allahu Akbar!
Almudarris 1441-1442
Ikhlas tanpa tapi Dakwah tanpa nanti

Baca juga:

Minggu, 09 Februari 2020

NIKMAT SYUKUR

Khutbah Jum'at, 07 Februari 2020.
Masjid Jamik Kampus Kopelma Darussalam


          Ketika kita bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt, maka Allah akan menambahkan nikmat itu bagi kita. Tetapi ketika kita tidak mau bersyukur, ketika kita sombong dengan mengatakan bahwa hasil usaha itu adalah hasil dari keringat kita sendiri, ingat bahwa azab Allah itu pedih. Oleh karena itu bagaimana kita bersyukur diantara nikmat syukur adalah nikmat yang telah Allah berikan kepada anggota tubuh kita, dan diantara anggota tubuh yang sangat luar biasa itu adalah nikmat melihat, nikmat mata. kita dapat melihat ayat-ayat Allah, alam semesta dan sebagainya.
          Lantas bagaimana cara kita bersyukur terhadap nikmat mata atau penglihatan yang diberikan oleh Allah? Di dalam kitab Uddatussabirin, Imam Ibnu Qayyib pernah mengatakan ketika itu beliau mengutip pendapat dari pada Abu Hazem yang mana ketika itu dia ditanya, bagaimana yang dimaksud  dengan syukur kedua mata? Apa yang dimaksud dengan syukur melihat dengan kedua mata? Beliau mengatakan bahwasanya diantara syukur terhadap mata yang telah Allah berikan kepada kita, apabila engkau melihat kebaikan maka engkau ceritakan kepada yang lain namun apabila engkau melihat keburukan maka engkau menutupinya, itu di antara nikmat syukur yang harus kita syukuri.
          Ketika kita mendengar suatu kebaikan, maka kita ceritakan kepada orang lain dan kita bisa berbuat kebaikan-kebaikan. Namun ketika kita melihat keburukan atau tanpa sengaja kita melihat keburukan, maka jangan ceritakan kepada yang lain, kita tutup. Karena Rasulullah Saw pernah mengatakan dalam hadisnya “Barang siapa yang menutup aib seorang mukmin maka Allah menutup aibnya dunia dan akhirat”. Maka ini perlu kita perhatikan dan ada juga di antara kita diberikan ujian dengan tidak bisa melihat, bukan berarti Allah menghinakan orang tersebut, boleh jadi Allah memuliakan orang itu dengan tidak bisa melihat dan belum tentu kita yang bisa melihat ini lebih mulia daripada mereka yang tidak bisa melihat.
          Maka nikmat Allah ini yang perlu kita syukuri dan jangan sampai kita menjadi orang-orang yang buta. Buta yang bagaimana? Buta tatkala Allah membangkitkan kita di hari akhir nanti. Sebagaimana Allah telah berfirman “Siapa yang berpaling daripada peringatanku maka akan kuberikan kesempitan untuk nikmat dunianya. Tidak hanya itu, di hari akhir nanti dia akan dibangkitkan dalam kondisi tidak bisa melihat, dalam kondisi buta, dan dalam penuh kegelapan”.
          Lantas apa yang membuat kita di dunia ini bisa melihat namun di akhirat nanti kita akan dibangkitkan dalam keadaan buta? Dalam sebuah kisah tatkala Imam Ahmad bin Hambal beliau mengimami shalat, ketika selesai shalat ada seorang jamaah bertanya "ya Imam, berapa banyak orang yang salat hari ini?" lalu dia menjawab "hanya satu saja orang yang salat pada hari ini". lalu jamaahnya mendengar demikian mengatakan "wahai Imam, apakah kamu tidak bisa melihat banyak sekali orang yang salat? Apakah engkau sudah buta wahai Imam?" mendengar jawaban demikian Imam Ahmad bin Hambal beliau tidak tahu bahkan dia mendefinisikan siapa orang yang buta itu sebenarnya. Lalu dia mengatakan bahwa "orang yang buta itu adalah orang yang sujud dihadapan Allah yaitu orang shalat, akan tetapi ketika dilihat hubungannya dengan manusia dia takabur, dia sombong, menganggap dirinya paling hebat".
          Kemudian Imam Ahmad bin Hambal mengatakan lagi bahwasanya "orang yang buta itu orang yang shalat dan orang yang puasa, kemudian dia curang dalam jual belinya. Walaupun dia salat, dia puasa namun ketika jual-beli, dia curang dalam timbangannya, dia tidak memberikan hak yang penuh, maka dia termasuk orang yang buta. Lalu dia mengatakan lagi, orang yang buta itu orang yang bersedekah satu hari padahal dia mampu bersedekah setiap harinya. Berapa banyak nikmat yang Allah berikan kepadanya.
          Mengenai sedekah ini sangat luar biasa, Allah menyebutkan ada orang yang minta dan dia menginginkan ditangguhkan kematiannya agar dia bisa bersedekah. “ya Allah tangguhkan sebentar kematian saya”, untuk apa? agar aku bisa bersedekah dan bisa melakukan amal amal sholeh. Ingat sedekah termasuk bagian dari amal sholeh, tetapi Allah telah mengkhususkan bahwa sedekah ini merupakan keutamaan yang sangat luar biasa, maka ketika ada orang yang hanya bersedekah satu hari padahal dia bisa bersedekah setiap dari pada nikmat yang telah Allah berikan kepadanya maka dia termasuk orang-orang yang buta.
          Lalu beliau mengatakan lagi, orang yang buta itu orang yang senantiasa berdiri dihadapan Allah, dia salat tetapi hatinya selalu membawa sifat dendam, sifat marah, dan meremehkan orang muslim yang lain padahal Allah Swt mengatakan dalam Al-Quran surah Ali Imran Ayat 133-134 telah jelaskan, diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa yang berkaitan dengan habluminannas yaitu orang yang gemar membantu orang lain baik itu dia dalam keadaan lapang atau dalam keadaan sempit dan dia mampu menahan amarahnya, mampu menahan emosinya, dan mau memaafkan kesalahan orang lain, Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Ini merupakan ciri-ciri yang bertaqwa yang berkaitan dengan habluminannas. Maka ketika ada seseorang yang menghadap Allah tetapi di dalam hatinya selalu membenci kepada yang lain, selalu Mendendam kepada sesama muslim, dan merendahkan yang lain maka dia termasuk orang yang buta.
          Terakhir, Iman Ahmad bin Hambal mengatakan orang yang buta itu adalah orang salat,  salat itu tidak memberikan bekas apapun pada dirinya. dan di akhir percakapan tersebut Imam Ahmad bin Hambal mengutip salah satu ayat di dalam Alquran “barang siapa di muka bumi ini yang buta mata hatinya walaupun dia bisa melihat sehingga ketika dia mati dia akan dibangkitkan dalam keadaan buta dan dia termasuk orang-orang yang sesat”, dan ini Senada dengan firman Allah “barang siapa yang berpaling dari pada peringatan ku sesungguhnya akan kuberikan kesempitan untuk kehidupan dunianya, tidak hanya itu di hari akhir nanti dia akan dibangkitkan dalam keadaan buta lalu dia protes kepada Allah, Ya Allah kenapa engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta sedangkan aku di dunia ini bisa melihat, sedangkan aku tidak memiliki masalah dengan mata ya Allah, lalu Allah mengatakan telah datang peringatan-peringatan kami, telah banyak ayat-ayat kami tapi kalian meninggalkannya begitu saja, kalian melupakannya begitu saja, pada hari ini kalian termasuk orang-orang yang dilupakan”.
          Oleh karena itu kisah tersebut bisa kita ambil inti sari bahwasanya yang namanya ketaqwaan itu tidak hanya mengatur hubungan kita dengan Allah. Taqwa tidak ada kaitannya dengan hablum minannas, maka taqwa itu tidak hanya mengajarkan kita bagaimana cara ibadah salat, puasa, zakat, dan sebagainya tetapi taqwa ada kaitannya dengan muamalah kita. Bagaimana hubungan kita sesama kita, bagaimana hubungan kita dengan tetangga dan sebagainya. Banyak sekali ayat di dalam Alquran dan hadis rasulullah yang menceritakan tentang demikian.
          Diantaranya Rasulullah menyebutkan “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir maka dia jangan sakiti tetangganya. Maka ini menunjukkan hablum minannas harus kita jaga. Ketika kita mampu menjaga kedua hal tersebut, kita jaga ketaqwaan yang berkenaan dengan hablum minallah dan hablum minannas, maka insya Allah kita akan termasuk muslim yang benar-benar bertaqwa sebagaimana wasiat Jumat yang disampaikan.
          Bertakwalah kamu dengan sebenar-benar taqwa, bagaimana yang dimaksud dengan sebenar-benarnya taqwa? Ketika kita mampu menjaga hubungan kita dengan Allah dan ketika kita mampu menjaga hubungan kita sesama manusia. Ingat yang namanya taqwa juga dikaitkan dengan kematian. Insya Allah ketika kita mampu menjaga ketaqwaan tersebut, Allah pada akhirnya wafatkan kita pada keadaan yang terbaik dan pada keadaan husnul khotimah. Amin ya robbal alamin.

Baca juga:

Senin, 02 Mei 2016

HARI PENDIDIKAN NASIONAL

HARI PENDIDIKAN NASIONAL : 20 MEI 2016
"Ilmu Tanpa Amal adalah Omong Kosong, Amal Tanpa IlmumAdalah Kesesatan"


Selamatkan Pendidikan Indonesia dari Keterpurukan, 
Selamatkan Pendidikan Indonesia Dari Penjajahan
Selamatkan Pendidikan Pedalaman Indonesia
Selamatkan Pendidikan Indonesia dari Degradasi Moral
Selamatkan Pendidikan Indonesia dari Keterbelakangan
"Selamatkan Pendidikan Indonesia"

-Penunggang Badai-


Aku, Kamu, Dakwah, dan Cinta



"AKU, KAMU, DAKWAH, DAN CINTA"



Karena Cinta adalah Sumbernya, Hati dan Jiwa Rumahnya..........
(Source : https://www.youtube.com/watch?v=ZN24d9JvvA4&feature=youtu.be)

Kamis, 28 April 2016

Loss of Adab dan Kepercayaan Diri Muslim

SAAT ini ada suatu penyakit mental serius yang menjangkiti kaum Muslimin. Yaitu mental ketidak percayaan diri terhadapa Islam dan sebagai Muslim. Ini merupakan jenis penyakit hati. Perasaan diri minder sebagai Muslim ini tentu saja memang karena sudah kehilangan kebanggaan terhadap simbol-simbol Islam.
Di satu sisi, ada upaya simbol-simbol Islam distigmatisasi dengan pandangan buruk, rendah, anti kemajuan, bodoh dan lain sebagainya. Mau cerdas jangan fanatik agama. Ulama, kiai dan santri adalah kaum terbelakang. Pesantren itu kotor. Al-Qur’an mengandung ajaran radikal. Inilah contoh statemen-statemen yang dipaksakan untuk dipercayai Muslim awam.
Akibatnya, sebagian kaum Muslimin lebih bangga dengan memakai simbol non-Islami. Perasaan minder tersebut muncul karena individu yang mengalami inferioritas merasa Islam itu betul-betul mempunyai kekurangan. Sehingga, perlu mencari “pelengkap” dari ajaran lain.
Mental inferiority complex sudah menjadi kenyataan yang makin memprihatinkan. Baru-baru ini, seorang non-Muslim pimpinan partai sekuler disambut gegap gempita oleh ratusan santri di sebuah pesantren. Mereka menyambut dengan hangat bak seorang ulama kenamaan. Para santri putra-putri merunduk, mencium tangan tokoh partai itu. Ini bukan sambutan biasa seorang tamu yang datang ke rumah seseorang. Dia bukan sekedar tamu yang cuma mau sowan ke kiai.
Apa alasannya? Bandingkan jika seumpama yang datang itu adalah Pak Darmaji penjual tempe di kampung. Meski, umpamanya, dia rajin shalat jamaah, tahajud dan sedekah, dia tak akan mendapatkan sambutan apa-apa di pesantren tersebut. Karena dia orang tidak terkenal, miskin dan dianggap bukan orang penting.
Tetapi, si non-Muslim pimpinan partai sekuler ini mendapatkan sambutan meriah. Apa sebab? Karena dia pemimpin partai, orang kaya bos media televisi nasional, kaya raya dan lain sebagainya. Inilah penghormatan yang tidak beradab.
Dalam kitab Asna al-Mathalib III halaman 114 diterangkan etika menghormati seseorang dengan mencium tangannya. Kitab ini menjelaskan bahwa orang sholih, berilmu atau orang-orang yang dianggap baik dari segi agamanya (diniyyah) harus dihormati dengan mencium tangannya. Bahkan hukumnya sunnah. Sementara hukumnya makruh menghormati dengan mencium tangan seorang Muslim karena kekayaannya atau karena hal lain yang bersifat duniawi. Dikutip dalam kitab tersebut sebuah hadis: “Barang siapa merendahkan hati pada orang kaya karena kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga agamanya”.
Lantas bagaimana menghormati orang kafir dengan mencium tangannya? Ibnu Hajar mengatakan bahwa bagi seorang Muslim tidak boleh mengagungkan orang kafir dengan cara mencium tangan. Barang siapa yang melakukannya untuk memperoleh harta si kafir, maka dia merupakan pendosa yang bodoh (Ibnu Hajar al-Haitami,Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra).
Itulah adab. Menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukannya. Orang berilmu, ulama, orang sholih, bertakwa kedudukannya lebih mulya daripada orang kaya yang tak berilmu. Kedudukan ulama lebih tinggi daripada Presiden. Kita wajib menghormati seorang karena ilmu dan ketakwaannya kepada Allah Swt.
Begitu pula kedudukan seorang Muslim lebih mulya daripada orang kafir. Saudara Muslim harus lebih dihormati daripada orang kafir. Sebabnya, orang kafir tidak adab kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka menentang menentang hukum Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja pantas disebut bi-adab (tidak beradab) seseorang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.
Seharusnya, kaum Muslim menghormati seseorang karena keimanan dan ketakwaannya. Bukan karena jabatannya, kekayaannya, kecantikannya dan popularitasnya. Masyarakat yang beradab adalah mereka yang menghargai ulama dan aktivitas keilmuan. Tidaklah beradab, jika ulama dan aktivitas keilmuan dikecilkan. Sementara tokoh partai dan aktivitas hiburan diagung-agungkan.
Kita tidak boleh keliru, yang kaya dimulyakan, sedangkan yang berilmu dihinakan. Ilmu harganya jauh lebih mahal daripada harta dunia. Orang kafir dimulyakan, sedang orang Muslim dicela-cela.
Wajib hukumnya memulyakan seseorang itu karena takwanya, ilmunya dan keimanannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang termulia disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Coba simak riwayat dari Imam Bukhari berikut ini. “Seorang laki-laki lewat didepan Rasulullah, Rasulullah berkata kepada seseorang yang duduk disisi beliau, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Orang yang disisi Nabi itu menjawab, “Ia adalah oaring dari golongan terhormat. Demi Allah, jika ia meminang, ia pasti diterima; jika ia meminta bantuan, pasti dibantu.” Rasulullah SAW diam. Kemudian lewat orang yang lain. Dan Rasulullah pun bertanya kepada orang yang disampingnya tadi, “Bagaimana pendapatmu tentang yang ini?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, dia orang dari golongan muslim yang miskin. Jika ia meminang, pasti ditolak; jika ia minta bantuan, pasti tidak ada yang membantu; jika ia berkata, pasti tidak ada yang mendengarkan ucapannya.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Orang ini (yang miskin) lebih baik daripada bumi dengan segala isinya dan orang yang tadi (yang dari golongan terhormat).” (HR. Bukhari).
Nabi Saw mengajarkan kepada sahabatnya itu tentang adab yang benar. Bahwa penghormatan kepada seseorang itu harus didasarkan oleh keisalaman atau keimanannnya bukan karena hartanya.
Nabi juga mengajarkan supaya kita bangga menjadi Muslim. Karena Islam adalah agama satu-satunya yang diridhoi oleh Allah. Juga satu-satunya agama wahyu. Mestinya ini menjadi kebanggaan kita. Seyogyanya seorang mensyukuri nikmat dari Allah berupa agama Islam. Sikap bangga menjadi Muslim inilah yang tertanam kuta pada generasi emas pertama kaum Muslimin di masa Nabi Saw. Yaitu para sahabatnya. Sehingga, mereka menjadi umat yang mulya, umat yang disegani oleh berbagai kaum di dunia. Umat yang dengan bangganya menaklukkan raksasas dunia saat itu, yatu kerajaan Persia.
Seorang Muslim patut bangga dan bersyukur dengan Islamnya. Sebab Islam adalah agama yang telah terbukti mampu menjelmakan peradaban yang agung dalam sejarah. Adian Husaini mengatakan yang patut disyukuri kaum Muslim adalah Islam dalam kenyataannya bukan mengandung konsep yang utopia atau angan-angan di atas kertas belaka. Tetapi, Islam adalah konsep-konsep praktis yang bisa dan telah terlaksana dalam kehidupan. Islam kini bukan hanya menjadi nama satu agama, tetapi juga telah diakui sebagai nama agama dan nama peradaban (hadharah/civilization) sekaligus. Bahkan, peradaban Islam merupakan peradaban yang unik, karena dibangun di atas landasan ajaran dan pemikiran Islam (Islamic thought).
Penulis Barat, Wallace-Murphy, bahkan mengakui kehebatan peradaban Islam ini. “Kita di Barat menanggung utang kepada dunia Islam yang tidak akan pernah lunas terbayarkan” (Adian Husaini,10 Kuliah Agama Islam Panduan Menjadi Cendekiawan Mulia dan Bahagia,hal. 34).
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah mengajarkan untuk bersikap percaya diri kepada orientalis Barat. Karena, menurutnya, orientalis itu meski dalam kajiannya hanya tahu parsial tentang ilmu-ilmu Islam. Sedangkan kita memiliki pandangan yang menyeluruh terhadap ilmu keislaman. Orientalis yang ahli syariah, tidak tahu akidah. Sedangkan ulama memandang dari berbagai sisi; syariah, akidah, tasawuf, dan lain-lain. Maka sepantasnya seorang santri tidak minder berdiri di hadapan orientalis Barat.
Kata Nabi Saw “Al-Islam Ya’lu wa Yu’la alaih” (Islam itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari Islam) (HR. al-Baihaqi dan Daruqutni). Karena itu, umat Islam diserahi tugas mulya oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi untuk mewujudkan rahmatan lil alamin, memakmurkan bumi dan mewujudkan keselamatan bagi manusia.
Karenanya, sangat aneh jika seseorang minder sebagai Islam, tidak percaya diri dengan agamanya yang hebat. Lalu lebih bangga dengan orang asing non-Muslim, bangga memakai baju kafir dan merasa mulia memakai cara berpikir orang kafir. Pemain bola kafir dimulyakan, sementara Ulama diabaikan. Karena kehilangan adab (loss of adab) itu, akhirnya mereka menjadi tidak percaya diri sebagai Muslim.
Dalam Islam, adab terkait dengan iman dan ibadah kepada Allah Swt. Ukuran seorang beradab atau tidak ditentukan berdasarkan ukuran sopan santun sekedar menurut manusia. KH. Hasyim Asy’ari mengatakan; Barangsiapa yang tidak memiliki adab, maka ia tiada memiliki iman, tauhid (yang sempurna) dan tidak melaksanakan syariah (KH. Hasyim Asy’ari,Adabul Alim wa Muta’allim).
Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapakan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya.
Martabat ulama yang sholih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada Allah. Maka orang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepada penguasa yang dzalim daripada guru ngaji di kampung yang sholih. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memulyakan tradisi keilmuan.*/Bangil, 26 April 2016
Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya
(Via :http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2016/04/27/93884/loss-adab-dan-kepercayaan-diri-muslim.html)

Rabu, 27 April 2016

Salam dari Salim A.Fillah : Setia dan Berlepas Diri

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah"

Oleh: Salim A Fillah
 DALAM film Kingdom of Heaven garapan Ridley Scott, adegan menegangkan itu berakhir menakjubkan.
“Aku tawarkan kepadamu”, ujar Shalahuddin kepada Balian dari Ibelin, “Jaminan keselamatan bagi seluruh penduduk Jerusalem; Ratumu, Uskup, para Ksatria, pria, wanita, dewasa, maupun anak-anak untuk keluar dengan damai dalam pengawalan kami ke daerah aman yang dikuasai teman-teman Kristen kalian. Takkan ada yang diganggu atau disakiti.”
“Tapi”, sahut Balian yang setengah terkejut, “Ketika orang-orang Kristen merebut kota ini, mereka membantai semua penduduknya dan menjadikan jalanannya digenangi darah.”
“Aku bukan orang seperti mereka”, tukas Sang Sultan. “Aku Shalahuddin. Shalahuddin. Orang yang berkebaikan untuk memuliakan agama.”
Lebih lima abad sebelum Shalahuddin berdiri di tempat itu, seperti dikisahkan Imam Malik, sahabat Nabi yang digelari Aminu Hadzihil Ummah, Abu ‘Ubaidah ibn Al Jarrah, memimpin sahabat-sahabat Rasulullah yang membuat warga Nasrani di Al Quds berkata, “Mereka ini lebih utama daripada Hawariyyun murid-murid ‘Isa Al Masih.”
Ketika dia harus mundur dari serbuan Romawi di salah satu jabhah, dia meminta maaf kepada penduduknya sebab tak lagi bisa melindungi mereka. Orang-orang Kristen Syam itupun menangisinya dan berkata, “Kalian berbeda agama, tapi lebih kami cintai daripada orang Romawi yang seagama. Hidup di bawah pemerintahan kalian jauh lebih kami sukai daripada mereka.”
Hari ini kita sulit membayangkan bagaimanakah akhlaq generasi Abu ‘Ubaidah dan generasi Shalahuddin; yang bahkan membuat musuh terpesona. Hari ini kita mungkin harus bersabar lebih panjang; jika ternyata para pembebas Masjidil Aqsha nanti harus sekualitas mereka ini.
Ini kita belum menyebut bagaimana Sang Khalifah yang naik unta bergantian dengan Aslam budaknya, memasuki Kota Al Quds tepat ketika giliran sang Amirul Mukminin menuntun dan sahayanya berkendara. Patriak Sophronius dan warga kota ternganga akan kebersahajaannya, juga alasannya menolak ketika disilakan shalat di gereja, “Aku khawatir kelak orang akan mengubah gerejamu menjadi Masjid dan beralasan, “‘Umar pernah shalat di sini.”
Salah satu simpul keimanan dalam Islam adalah Al Wala’ dan Al Bara’. Al Wala’ dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, antara lain; setia, mencintai, menolong, mengikuti, dan mendekat kepada sesuatu. Sedangkan kata Al Bara’ antara lain menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri, dan berada di pihak serta keadaan yang berbeda.
Dalam syari’at, wala’ seorang mukmin kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang mukmin berarti setia, cinta, serta mengutamakan segala hal yang mendatangkan keridhaanNya.
Nah, yang sering kurang pas diterjemahkan adalah Al Bara’ sebagai semata-mata benci. Ya, di dalamnya memang ada unsur benci karena Allah. Tetapi tidak dikatakan memiliki Al Bara’ jika seseorang membenci orang kafir, tapi dalam perilaku dan akhlaq dirinya sama atau bahkan lebih buruk.
Sesuai maknanya, Shalahuddin dan Abu ‘Ubaidah meneladankan pada kita bahwa yang akan dirasakan manusia dari adanya Al Bara’ adalah betapa berbedanya antara seorang muslim dengan yang bukan dalam kejujuran, keadilan, sikap amanah, belas kasih, dan akhlaq mulia yang ditampilkan.
“I’m not those men“, ujar aktor Ghassan Massoud yang memerankan Sang Sultan. Di kalangan pesantren Salafiyah dikenal ungkapan, “Lastu kahaiatikum“, yang harfiahnya bermakna “Aku tak seperti polah kalian.”
Terang benderang tampak, mereka membantai, dia berbelas kasih. Mereka aniaya, dia adil. Jika ditambahkan tentang kedatangan ‘Umar; mereka bermewah, dia bersahaja. Mereka tercela, dia terpuji.
Maka jika Al Wala’ tak hanya berarti cinta, namun juga mendidik diri untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh yang tercinta, yakni Allah dan RasulNya; maka Al Bara’ juga menjadi sempurna dengan menunjukkan keunggulan imani dalam hati yang teterjemahkan dalam laku sehari-hari.
Pekerjaan Rumah kita untuk menghadirkan pemimpin dengan Al Wala’ dan Al Bara’sedahsyat Shalahuddin dan Abu ‘Ubaidah pastilah masih panjang. Tapi jangan hilang harap lalu bermudah-mudah dalam menyerahkan jutaan jiwa beriman pada yang tak berwala’ pada Allah dan RasulNya.
Ayat berikut ini tetap akan menjadi panduan kita, tiada yang membatalkannya; sebab memilih pemimpin shalih adalah hajat dunia akhirat.
لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ
Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian terhadap siksaNya. Dan hanya kepada Allah kembali kalian.” (QS Ali Imran [3]: 28).*
Twitter @Salimafillah
(Via : hidayatullah.com)

Rabu, 09 Maret 2016

AEF 2016 : LOMBA FOTOGRAFI

TERBUKA UNTUK UMUM
Khusus buat kamu yang punya mata lensa dunia, yuuk ikuti event ini👇🏻
~Almudarris Education Fair 2016~ PRESENTS
Lomba FOTOGRAFI📷
Dengan Tema: Nuansa Islami di Kota Madani
Syarat dan ketentuan:
1⃣   Terbuka untuk umum
2⃣   Sesuai dengan tema
3⃣   Karya belum pernah diikutsertakan dalam perlombaan lain dan belum pernah di publikasikan
4⃣   Pengeditan foto hanya sebatas saturation, brightness, crop, dan contrast.
5⃣   Peserta mengumpulkan HardCopy Ukuran 6R (5 x 8 inch atau 15.2 x 20,3 cm)
ke posko pendaftaran di taman kolam FKIP Unsyiah
6⃣   Mengirimkan SoftCopy dengan format_JPG ke e-mail presidium.almudarris@gmail.com dengan subjek e-mail "Lomba Fotografi"
TIMELINE?
1⃣   Pendaftaran di buka pada tanggal 8 maret - 1 april 2016. 
2⃣   Batas akhir pengumpulan karya tanggal 2 april 2016.


📞
Ayo tunggu apa lagi, segera daftarkan diri kamu dengan cara ketik: AEF_FG_Nama_Instansi_no hp kirim ke 085262603335
atau datang langsung ke posko pendaftaran di taman kolam FKIP UNSYIAH.
💰 Fee: Rp 10.000
🎊 Juara 1,2,3 akan mendapatkan Hadiah+uang tunai+trophy+sertifikat+bingkisan menarik
 contact person: 085262603335 (Azmi)

AEF 2016 : LOMBA MENULIS OPINI

SPESIAL BUAT KAMU YANG SUKA NULIS
Almudarris Education Fair 2016 present :
LOMBA OPINI📝📝
Dengan Tema:
"Sosok Pemimpin Ideal Untuk Aceh Madani" 👥TERBUKA UNTUK UMUM.
Pendaftaran dibuka pada tanggal 8 Maret - 7 April 2016 🎀 Spesial bagi 10 pendaftar pertama, akan mendapatkan DISKON 50%. Batas akhir pengumpulan naskah 13 April 2016 pukul 18:00 WIB
Fee: Rp10.000 👉🏼Tunggu apa lagi? Ayoo.. Daftarkan dirimu segera.
Caranya: ketik AEF_Opini_Nama_Instansi_No.hp. 👉🏼kirim ke 081262997443
Atau bisa mendaftar langsung ke posko pendaftaran di taman kolam FKIP UNSYIAH.
Juara 1,2,3 akan mendapatkan uang tunai+trophy+sertifikat.
🌾SPESIAL BAGI JUARA 1🌾
👉🏼karya akan dipublikasikan di media cetak dan media online.
Untuk info lebih lanjut, hubungi: 082391119449

FORUM STUDI ISLAM (FOSI) 2020

  UKM LDF Al m udarris memiliki enam bidang yang masing-masing bidangnya menjalankan program kerja yang bermacam ragam , termas...