Translate

Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Februari 2020

NIKMAT SYUKUR

Khutbah Jum'at, 07 Februari 2020.
Masjid Jamik Kampus Kopelma Darussalam


          Ketika kita bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt, maka Allah akan menambahkan nikmat itu bagi kita. Tetapi ketika kita tidak mau bersyukur, ketika kita sombong dengan mengatakan bahwa hasil usaha itu adalah hasil dari keringat kita sendiri, ingat bahwa azab Allah itu pedih. Oleh karena itu bagaimana kita bersyukur diantara nikmat syukur adalah nikmat yang telah Allah berikan kepada anggota tubuh kita, dan diantara anggota tubuh yang sangat luar biasa itu adalah nikmat melihat, nikmat mata. kita dapat melihat ayat-ayat Allah, alam semesta dan sebagainya.
          Lantas bagaimana cara kita bersyukur terhadap nikmat mata atau penglihatan yang diberikan oleh Allah? Di dalam kitab Uddatussabirin, Imam Ibnu Qayyib pernah mengatakan ketika itu beliau mengutip pendapat dari pada Abu Hazem yang mana ketika itu dia ditanya, bagaimana yang dimaksud  dengan syukur kedua mata? Apa yang dimaksud dengan syukur melihat dengan kedua mata? Beliau mengatakan bahwasanya diantara syukur terhadap mata yang telah Allah berikan kepada kita, apabila engkau melihat kebaikan maka engkau ceritakan kepada yang lain namun apabila engkau melihat keburukan maka engkau menutupinya, itu di antara nikmat syukur yang harus kita syukuri.
          Ketika kita mendengar suatu kebaikan, maka kita ceritakan kepada orang lain dan kita bisa berbuat kebaikan-kebaikan. Namun ketika kita melihat keburukan atau tanpa sengaja kita melihat keburukan, maka jangan ceritakan kepada yang lain, kita tutup. Karena Rasulullah Saw pernah mengatakan dalam hadisnya “Barang siapa yang menutup aib seorang mukmin maka Allah menutup aibnya dunia dan akhirat”. Maka ini perlu kita perhatikan dan ada juga di antara kita diberikan ujian dengan tidak bisa melihat, bukan berarti Allah menghinakan orang tersebut, boleh jadi Allah memuliakan orang itu dengan tidak bisa melihat dan belum tentu kita yang bisa melihat ini lebih mulia daripada mereka yang tidak bisa melihat.
          Maka nikmat Allah ini yang perlu kita syukuri dan jangan sampai kita menjadi orang-orang yang buta. Buta yang bagaimana? Buta tatkala Allah membangkitkan kita di hari akhir nanti. Sebagaimana Allah telah berfirman “Siapa yang berpaling daripada peringatanku maka akan kuberikan kesempitan untuk nikmat dunianya. Tidak hanya itu, di hari akhir nanti dia akan dibangkitkan dalam kondisi tidak bisa melihat, dalam kondisi buta, dan dalam penuh kegelapan”.
          Lantas apa yang membuat kita di dunia ini bisa melihat namun di akhirat nanti kita akan dibangkitkan dalam keadaan buta? Dalam sebuah kisah tatkala Imam Ahmad bin Hambal beliau mengimami shalat, ketika selesai shalat ada seorang jamaah bertanya "ya Imam, berapa banyak orang yang salat hari ini?" lalu dia menjawab "hanya satu saja orang yang salat pada hari ini". lalu jamaahnya mendengar demikian mengatakan "wahai Imam, apakah kamu tidak bisa melihat banyak sekali orang yang salat? Apakah engkau sudah buta wahai Imam?" mendengar jawaban demikian Imam Ahmad bin Hambal beliau tidak tahu bahkan dia mendefinisikan siapa orang yang buta itu sebenarnya. Lalu dia mengatakan bahwa "orang yang buta itu adalah orang yang sujud dihadapan Allah yaitu orang shalat, akan tetapi ketika dilihat hubungannya dengan manusia dia takabur, dia sombong, menganggap dirinya paling hebat".
          Kemudian Imam Ahmad bin Hambal mengatakan lagi bahwasanya "orang yang buta itu orang yang shalat dan orang yang puasa, kemudian dia curang dalam jual belinya. Walaupun dia salat, dia puasa namun ketika jual-beli, dia curang dalam timbangannya, dia tidak memberikan hak yang penuh, maka dia termasuk orang yang buta. Lalu dia mengatakan lagi, orang yang buta itu orang yang bersedekah satu hari padahal dia mampu bersedekah setiap harinya. Berapa banyak nikmat yang Allah berikan kepadanya.
          Mengenai sedekah ini sangat luar biasa, Allah menyebutkan ada orang yang minta dan dia menginginkan ditangguhkan kematiannya agar dia bisa bersedekah. “ya Allah tangguhkan sebentar kematian saya”, untuk apa? agar aku bisa bersedekah dan bisa melakukan amal amal sholeh. Ingat sedekah termasuk bagian dari amal sholeh, tetapi Allah telah mengkhususkan bahwa sedekah ini merupakan keutamaan yang sangat luar biasa, maka ketika ada orang yang hanya bersedekah satu hari padahal dia bisa bersedekah setiap dari pada nikmat yang telah Allah berikan kepadanya maka dia termasuk orang-orang yang buta.
          Lalu beliau mengatakan lagi, orang yang buta itu orang yang senantiasa berdiri dihadapan Allah, dia salat tetapi hatinya selalu membawa sifat dendam, sifat marah, dan meremehkan orang muslim yang lain padahal Allah Swt mengatakan dalam Al-Quran surah Ali Imran Ayat 133-134 telah jelaskan, diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa yang berkaitan dengan habluminannas yaitu orang yang gemar membantu orang lain baik itu dia dalam keadaan lapang atau dalam keadaan sempit dan dia mampu menahan amarahnya, mampu menahan emosinya, dan mau memaafkan kesalahan orang lain, Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Ini merupakan ciri-ciri yang bertaqwa yang berkaitan dengan habluminannas. Maka ketika ada seseorang yang menghadap Allah tetapi di dalam hatinya selalu membenci kepada yang lain, selalu Mendendam kepada sesama muslim, dan merendahkan yang lain maka dia termasuk orang yang buta.
          Terakhir, Iman Ahmad bin Hambal mengatakan orang yang buta itu adalah orang salat,  salat itu tidak memberikan bekas apapun pada dirinya. dan di akhir percakapan tersebut Imam Ahmad bin Hambal mengutip salah satu ayat di dalam Alquran “barang siapa di muka bumi ini yang buta mata hatinya walaupun dia bisa melihat sehingga ketika dia mati dia akan dibangkitkan dalam keadaan buta dan dia termasuk orang-orang yang sesat”, dan ini Senada dengan firman Allah “barang siapa yang berpaling dari pada peringatan ku sesungguhnya akan kuberikan kesempitan untuk kehidupan dunianya, tidak hanya itu di hari akhir nanti dia akan dibangkitkan dalam keadaan buta lalu dia protes kepada Allah, Ya Allah kenapa engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta sedangkan aku di dunia ini bisa melihat, sedangkan aku tidak memiliki masalah dengan mata ya Allah, lalu Allah mengatakan telah datang peringatan-peringatan kami, telah banyak ayat-ayat kami tapi kalian meninggalkannya begitu saja, kalian melupakannya begitu saja, pada hari ini kalian termasuk orang-orang yang dilupakan”.
          Oleh karena itu kisah tersebut bisa kita ambil inti sari bahwasanya yang namanya ketaqwaan itu tidak hanya mengatur hubungan kita dengan Allah. Taqwa tidak ada kaitannya dengan hablum minannas, maka taqwa itu tidak hanya mengajarkan kita bagaimana cara ibadah salat, puasa, zakat, dan sebagainya tetapi taqwa ada kaitannya dengan muamalah kita. Bagaimana hubungan kita sesama kita, bagaimana hubungan kita dengan tetangga dan sebagainya. Banyak sekali ayat di dalam Alquran dan hadis rasulullah yang menceritakan tentang demikian.
          Diantaranya Rasulullah menyebutkan “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir maka dia jangan sakiti tetangganya. Maka ini menunjukkan hablum minannas harus kita jaga. Ketika kita mampu menjaga kedua hal tersebut, kita jaga ketaqwaan yang berkenaan dengan hablum minallah dan hablum minannas, maka insya Allah kita akan termasuk muslim yang benar-benar bertaqwa sebagaimana wasiat Jumat yang disampaikan.
          Bertakwalah kamu dengan sebenar-benar taqwa, bagaimana yang dimaksud dengan sebenar-benarnya taqwa? Ketika kita mampu menjaga hubungan kita dengan Allah dan ketika kita mampu menjaga hubungan kita sesama manusia. Ingat yang namanya taqwa juga dikaitkan dengan kematian. Insya Allah ketika kita mampu menjaga ketaqwaan tersebut, Allah pada akhirnya wafatkan kita pada keadaan yang terbaik dan pada keadaan husnul khotimah. Amin ya robbal alamin.

Baca juga:

Selasa, 03 Mei 2016

HISTORY : Meneladani Semangat Jihad Fatahillah

Meneladani Semangat Jihad Fatahillah

Sejarah Fatahillah menaklukkan pasukan Portugis di Sunda Kalapa atau Jayakarta, adalah salah satu bukti bahwa Jakarta pernah menjadi wilayah kekuasaan Islam
Meneladani Semangat Jihad Fatahillah
Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta

Oleh: Dina Farhana

MENELUSURI sejarah Jakarta bisa dimulai dari Pelabuhan Sunda Kalapa. Pelabuhan ini menjadi sentral perdagangan Nusantara yang dikuasai oleh kerajaan Sunda Pajajaran, sebuah kerajaan bercorak Hindu Budha, yang memiliki dua kawasan pelabuhan, yaitu Sunda Kalapa dan Banten. Pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan terbesar di Jawa Barat dan keberadaannya menjadi sangat penting bagi pusat perdagangan internasional Nusantara.
Bangsa Katolik Portugis memulai imperialismenya dengan menguasai Malaka, tahun 1511. Kepentingan politik Portugis dalam menguasai Nusantara tidak hanya sebatas bada menguasai perdagangan dan menjarah kekayaaan alam Nusantara, namun juga pada misi agamanya untuk menyebarkan ajaran Katolik.  Tidak berhenti disitu, bangsa Portugis meluaskan ekspansinya dengan menaklukan wilayah Aceh di Sumatera, dan Sunda Kalapa di Jawa.
Tahun 1522, bangsa Portugis berhasil menguasai pelabuhan Sunda Kalapa dengan membuat perjanjian kerjasama dengan kerajaan Pajajaran. Isi perjanjian antara lain:  Pajajaran akan menjual lada kepada Portugis dan Portugis diperkenankan membangun benteng di Sunda Kelapa. Namun sebelum pelaksanaan pembangunan benteng tersebut, bangsa Portugis banyak mengalami penyerangan oleh pasukan Islam. Sultan Mahmud Syah menyerang benteng Portugis di Malaka;  kekuasaan Portugis di Maluku diserang oleh Kesultanan Tidore dan Ternate. Begitu juga dengan Panglima Fatahillah yang menaklukan kekuasaan Portugis di Tanah Jawa.
Penyerangan terhadap kekuasaan Portugis di Sunda Kalapa dipimpin oleh Fatahillah, yang tak lain adalah menantu dari Sunan Gunung Jati.  Fatahillah diangkat sebagai panglima perang oleh Raja Kerajaan Islam Demak untuk menaklukan penjajahan Portugis di Tanah Sunda. Pasukan perang Fatahillah mendapatkan bantuan armada dari kerajaan Islam Demak dan Kerajaan Islam Cirebon, sehingga pasukan Islam memiliki pertahanan yang cukup kuat. Awal penyerangan pasukan Fatahillah diarahkan kepada penaklukan kerajaan Pajajaran di Banten. Lalu setelah itu melanjutkan penyerangan terhadap pasukan portugis di Pelabuhan Sunda Kalapa.
Pasukan Portugis dibawah pimpinan Fransisco de Sa, masih berusaha menagih janji atas perjanjian kerajaan Pajajaran dengan Pasukan Portugis untuk mendirikan benteng di Pelabuhan Sunda Kalapa. Namun karena Sunda Kalapa sudah berada dalam kekuasaan pasukan Fatahillah, tentu Fatahillah menolak tuntutan tersebut. Maka dengan kekecewaannya Portugis mengancam akan menghancurkan Sunda Kalapa beserta pasukan Islam. Tapi, Fatahillah tak gentar menghadapi perlawanan tersebut.
Tidak lama kemudian, pecahlah pertempuran dahsyat. Pasukan darat Katolik Portugis menggunakan senjata pedang, bedil, dan meriam serta berlindung dengan topi baja. Sedangkan pasukan Islam jalur darat menggunakan senjata tombak, kujang, pedang, keris dan meriam-meriam. Armada kapal perang Fransisco de Sa maupun Fatahillah menggunakan meriam dan senjata api lainnya. (Drs. Edi S. Ekadjati, Fatahillah Pahlawan Arif Bijaksana, Jakarta: Penerbit PT. Sanggabuwana, hal. 45)
Pasukan Fatahillah tetap bergerak mengepung pasukan meriam Portugis. Komando Fatahillah untuk menyerbu terdengar lantang oleh pasukan Islam. Dengan bergerak cepat disertai semangat jihad yang selalu berkobar membuat pasukan Portugis berada dalam serangan dahsyat. Pertarungan sengit untuk membunuh lawan semakin berkecamuk. Banyak korban dari pihak Portugis berjatuhan. Portugis tidak mampu menahan serangan bertubi-tubi dari pasukan Kerajaan Islam Demak, sisa pasukan Portugis terdesak mundur dari darat dan melarikan diri menuju armada kapal. Masih dalam keadaan pelarian, pasukan Portugis dikejar pasukan Islam. Salah satu armada kapal Portugis terkena sasaran meriam armada kapal Fatahillah. Kapal Portugis itu terbakar, kemudian tenggelam ditelan lautan. (Ibid, hal. 46)

perjuangan untuk menegakkan Islam di Jakarta merupakan tugas bagi para pemimpin-pemimpin setelah Fatahillah
Kemenangan yang didapat pasukan Islam atas jatuhnya kekuasaan Portugis di Sunda Kalapa terjadi pada tahun 1527 M. Kemenangan ini semata-mata bukan hanya karena hasil perjuangan Fatahillah dan pasukannya, melainkan juga karena adanya pertolongan Allah untuk meneguhkan ajarannya di tanah Jakarta. Sultan Trenggono, Raja Kerajaan Islam Demak mengangkat Fatahillah menjadi gubernur Sunda Kalapa, dan Sunda Kalapa menjadi wilayah mandat kerajaan Islam Demak. Nama Sunda Kalapa setelah itu diganti oleh Fatahillah dengan nama Jayakarta yang artinya kemenengan yang nyata. Nama ini diambil dari surat al Fath ayat 1, Allah berfirman:
إنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
Artinya: Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”  (Q.S. Al-Fath [48]: 1)
Sejarah Fatahillah menaklukkan pasukan Portugis di Sunda Kalapa atau Jayakarta, adalah salah satu bukti bahwa Jakarta pernah menjadi wilayah kekuasaan Islam. Islam berdiri teguh untuk menaklukan kemungkaran para penjajah portugis yang berkuasa. Selain itu, usaha pasukan Islam dibawah kepemimpinan Fatahillah dengan semangat jihadnya untuk memerangi tindakan tidak berperikemanusiaan kaum penjajah terhadap masyarakat Nusantara.
Mengambil hikmah sejarah Jakarta,  perjuangan untuk menegakkan Islam di Jakarta merupakan tugas bagi para pemimpin-pemimpin setelah Fatahillah. Jakarta sebagai jantung Nusantara, seharusnya menjadi  kelanjutan bagi perjuangan ulama-ulama  terdahulu dalam menegakkan Islam di Ibukota dan seluruh Nusantara. (2 Mei 2016).
(source :http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2016/05/03/94241/meneladani-semangat-jihad-fatahillah.html)

Rabu, 27 April 2016

Salam dari Salim A.Fillah : Setia dan Berlepas Diri

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah"

Oleh: Salim A Fillah
 DALAM film Kingdom of Heaven garapan Ridley Scott, adegan menegangkan itu berakhir menakjubkan.
“Aku tawarkan kepadamu”, ujar Shalahuddin kepada Balian dari Ibelin, “Jaminan keselamatan bagi seluruh penduduk Jerusalem; Ratumu, Uskup, para Ksatria, pria, wanita, dewasa, maupun anak-anak untuk keluar dengan damai dalam pengawalan kami ke daerah aman yang dikuasai teman-teman Kristen kalian. Takkan ada yang diganggu atau disakiti.”
“Tapi”, sahut Balian yang setengah terkejut, “Ketika orang-orang Kristen merebut kota ini, mereka membantai semua penduduknya dan menjadikan jalanannya digenangi darah.”
“Aku bukan orang seperti mereka”, tukas Sang Sultan. “Aku Shalahuddin. Shalahuddin. Orang yang berkebaikan untuk memuliakan agama.”
Lebih lima abad sebelum Shalahuddin berdiri di tempat itu, seperti dikisahkan Imam Malik, sahabat Nabi yang digelari Aminu Hadzihil Ummah, Abu ‘Ubaidah ibn Al Jarrah, memimpin sahabat-sahabat Rasulullah yang membuat warga Nasrani di Al Quds berkata, “Mereka ini lebih utama daripada Hawariyyun murid-murid ‘Isa Al Masih.”
Ketika dia harus mundur dari serbuan Romawi di salah satu jabhah, dia meminta maaf kepada penduduknya sebab tak lagi bisa melindungi mereka. Orang-orang Kristen Syam itupun menangisinya dan berkata, “Kalian berbeda agama, tapi lebih kami cintai daripada orang Romawi yang seagama. Hidup di bawah pemerintahan kalian jauh lebih kami sukai daripada mereka.”
Hari ini kita sulit membayangkan bagaimanakah akhlaq generasi Abu ‘Ubaidah dan generasi Shalahuddin; yang bahkan membuat musuh terpesona. Hari ini kita mungkin harus bersabar lebih panjang; jika ternyata para pembebas Masjidil Aqsha nanti harus sekualitas mereka ini.
Ini kita belum menyebut bagaimana Sang Khalifah yang naik unta bergantian dengan Aslam budaknya, memasuki Kota Al Quds tepat ketika giliran sang Amirul Mukminin menuntun dan sahayanya berkendara. Patriak Sophronius dan warga kota ternganga akan kebersahajaannya, juga alasannya menolak ketika disilakan shalat di gereja, “Aku khawatir kelak orang akan mengubah gerejamu menjadi Masjid dan beralasan, “‘Umar pernah shalat di sini.”
Salah satu simpul keimanan dalam Islam adalah Al Wala’ dan Al Bara’. Al Wala’ dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, antara lain; setia, mencintai, menolong, mengikuti, dan mendekat kepada sesuatu. Sedangkan kata Al Bara’ antara lain menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri, dan berada di pihak serta keadaan yang berbeda.
Dalam syari’at, wala’ seorang mukmin kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang mukmin berarti setia, cinta, serta mengutamakan segala hal yang mendatangkan keridhaanNya.
Nah, yang sering kurang pas diterjemahkan adalah Al Bara’ sebagai semata-mata benci. Ya, di dalamnya memang ada unsur benci karena Allah. Tetapi tidak dikatakan memiliki Al Bara’ jika seseorang membenci orang kafir, tapi dalam perilaku dan akhlaq dirinya sama atau bahkan lebih buruk.
Sesuai maknanya, Shalahuddin dan Abu ‘Ubaidah meneladankan pada kita bahwa yang akan dirasakan manusia dari adanya Al Bara’ adalah betapa berbedanya antara seorang muslim dengan yang bukan dalam kejujuran, keadilan, sikap amanah, belas kasih, dan akhlaq mulia yang ditampilkan.
“I’m not those men“, ujar aktor Ghassan Massoud yang memerankan Sang Sultan. Di kalangan pesantren Salafiyah dikenal ungkapan, “Lastu kahaiatikum“, yang harfiahnya bermakna “Aku tak seperti polah kalian.”
Terang benderang tampak, mereka membantai, dia berbelas kasih. Mereka aniaya, dia adil. Jika ditambahkan tentang kedatangan ‘Umar; mereka bermewah, dia bersahaja. Mereka tercela, dia terpuji.
Maka jika Al Wala’ tak hanya berarti cinta, namun juga mendidik diri untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh yang tercinta, yakni Allah dan RasulNya; maka Al Bara’ juga menjadi sempurna dengan menunjukkan keunggulan imani dalam hati yang teterjemahkan dalam laku sehari-hari.
Pekerjaan Rumah kita untuk menghadirkan pemimpin dengan Al Wala’ dan Al Bara’sedahsyat Shalahuddin dan Abu ‘Ubaidah pastilah masih panjang. Tapi jangan hilang harap lalu bermudah-mudah dalam menyerahkan jutaan jiwa beriman pada yang tak berwala’ pada Allah dan RasulNya.
Ayat berikut ini tetap akan menjadi panduan kita, tiada yang membatalkannya; sebab memilih pemimpin shalih adalah hajat dunia akhirat.
لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ
“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian terhadap siksaNya. Dan hanya kepada Allah kembali kalian.” (QS Ali Imran [3]: 28).*
Twitter @Salimafillah
(Via : hidayatullah.com)

Senin, 25 Juni 2012

Dr. Muhammad Mursi, Presiden Mesir Pertama yang Hafal Al-Qur'an, Masya Allah.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Presiden terpilih Mesir Mohammed Mursi merupakan Presiden Mesir pertama yang hafal Alquran. Pria bernama lengkap Mohammed Mursi Issa Ayyat ini bahkan bersama Istri dan seluruh anaknya adalah penghafal Alquran.

Pria yang pernah merasakan dibalik jeruji ketika pemerintahan Anwar Saddat dan Hosni Mubarak ini dikaruniai 5 orang anak dan 3 orang cucu.

Selain Mursi, pemimpin dunia yang juga penghafal Alquran adalah Perdana Menteri Hamas, Ismail Haniya. bahkan anaknya yang bernama Aid berhasil menyempurnakan hafalan Alquran dalam 35 hari dan memperoleh gelar mumtaz (sempurna).

Baik Mursi maupun Haniya memiliki akar yang sama, yakni Ikhwanul Muslimin. Mursi mewakili sayap politik Ikhwan di Mesir lewat Partai Kebebasan dan Keadilan. Sedangkan Haniya adalah pemimpin Hamas yang didirikan Syaikh Ahmad Yassin sebagai pengejawantahan perjuangan Ikhwanul Muslimin di Palestina.

Bahkan dalam kampanyenya, Mursi pernah berujar jika menang, ibu kota Mesir akan dipindahkan ke Yerusalem sebagai bentuk dukungan bagi masyarakat Palestina.

Redaktur: Hafidz Muftisany
Sumber: kmamesir/kispa

Senin, 30 Januari 2012

Sang Murabbi, KH Rahmat Abdullah

Sang Murabbi, KH Rahmat Abdullah
Ustadz Rahmad Abdullah

Rahmat Abdullah, yang seringkali dipanggil Bang Mamak oleh warga Kampung Kuningan ini, meskipun lahir dari pasangan asli Betawi, namun ia selalu menghindari sebutan Betawi yang dianggapnya berbau kolonial Belanda. Ia lebih bangga dengan menyebut Jayakarta, karena baginya itulah nama yang diberikan Pangeran Fatahillah kepada tanah kelahirannya. Sebuah sikap yang tak lain lahir dari semangat anti kolonialisme dan imperialisme, serta kebanggaan (izzah) terhadap warisan perjuangan Islam.
Pada usia 11 tahun, Rahmat kecil harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, karena saat itu ia telah menjadi seorang anak yatim. Sang ayah hanya mewariskan pada dirinya usaha percetakan-sablon, yang ia kelola bersama sang kakak dan adik untuk menutupi segala biaya dan beban hidup yang mesti ditanggungnya.
Meskipun begitu, Rahmat bukanlah remaja yang cengeng. Walaupun harus ikut membanting tulang mengais rezeki, ia tetap tak mau tertinggal dalam pendidikan. Awal pendidikan resminya ia mulai sejak masuk sekolah dasar negeri di bilangan Kuningan, yang kala itu masih berupa perkampungan Betawi, belum berdiri gedung-gedung pencakar langit. Dan seperti umumnya generasi saat itu, Rahmat kecil setiap pagi mengaji (belajar membaca Al Quran, baca tulis Arab, kajian aqidah, akhlaq & fiqh dengan metode baca kitab berbahasa Arab, nukil terjemah dan syarah ustadz) baru siang harinya dilanjutkan dengan sekolah dasar.
Tahun 1966, setelah lulus SD, yang tahun ajarannya diperpanjang setengah tahun karena terjadi peristiwa G-30-S/PKI, Rahmat masuk SMP. Tapi kali ini ia mesti keluar lagi karena terjadi dilema dalam dirinya. Ironi memang, di satu sisi keaktifan dirinya sebagai aktifis demonstran anggota KAPPI & KAMI yang dikenal sebagai angkatan 66, namun di hari Jum’at sekolahnya justru masuk pukul 11.30, tepat saat shalat Jum’at.
Karenanya pada permulaan tahun ajaran berikutnya (1967/1968) Rahmat memutuskan pindah ke Ma’had Assyafi’iyah, Bali Matraman. Dari hasil test dan interview, ia harus duduk di kelas II Madrasah Ibtidaiyah (tingkat SD). Namun Rahmat tidak puas dengan hasil itu, ia mencoba melakukan lobby dengan seorang ustadz, untuk melakukan test ulang hingga ia pindah duduk di kelas III.
Permulaan belajar di Ma’had ini, bagi Rahmat begitu berbekas. Apalagi ia harus ikut mengaji pada seorang ustadz senior Madrasah Tsanawiyah (Tingkat SMP) yang sangat streng dalam berbicara dan mengajar dengan bahasa Arab. Namun tak selang lama, ternyata sang guru kelas ini justru sama-sama mengaji bersamanya.
Rahmat memang langsung meloncat naik ke kelas V, di sinilah ia belajar ilmu nahwu dasar yang sangat ia sukai karena dengan ilmu itu terkuaklah setiap misteri intonasi dan narasi penyiar Shauth Indonesia, yang sering disiarkan oleh radio RRI dengan berbahasa Arab. Siaran inilah yang menjadi acara kesukaan Rahmat. Sehingga meski hidupnya serba kekurangan, namun karena sadar akan pentingnya komunikasi dan informasi, Rahmat merelakan uang makannya untuk dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil jerih payahnya mencari pelanggan sablon, untuk membeli radio. Padahal saat itu, radio masih menjadi status simbol bagi orang-orang kaya zaman itu.
Selepas kelas V, Rahmat melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Assyafi’iyah. Di MTs ini ia belajar ushul fiqh, musthalah hadits, psikologi & ilmu pendidikan, di samping tetap belajar ilmu nahwu, sharf dan balaghah. Tapi pelajaran yang paling ia sukai adalah talaqqi. Biasanya talaqqi ini dilakukan langsung dengan para masyaikh (kiai) serta bimbingan langsung sang orator pembangkit semangat yang selalu memberikan inspirasi Rahmat muda, KH Abdullah Syafi’i.
Di saat ini pula Rahmat merintis dakwah dengan mengajar di Ma’had Asyafi’iyah dan Darul Muqorrobin, Karet Kuningan. Di tempat inilah Rahmat remaja mengabdikan dirinya sebagai guru, pendidik dan mengajarkan berbagai ilmu. Keseharian ini ia jalani bertahun-tahun dengan berjalan kaki dari Bali Matraman ke Karet Kuningan. Bahkan untuk memberikan pelajaran tambahan berupa les privat pun ia lakukan dengan berjalan kaki masuk ke lorong-lorong jalanan Jakarta hingga larut malam.
Semangat hidup dan dakwah ini juga ia tuangkan dalam berbagai untaian bait-bait syair, puisi serta berbagai tulisan artikel kecil yang ia kirim ke berbagai media. Tak jarang ia juga berlatih bermain teater bersama rekan-rekan guru atau teman-teman seperjuangannya.
Dari jerih payah inilah, selain bisa membeli sebuah motor Honda 66 atau sering disebut motor Chips, Rahmat Abdullah mampu mengasah watak dan pikirannya sehingga menjadi murid terbaik dan murid kesayangan dari KH. Abdullah Syafi’i. Bahkan sempat pada tahun 1980, bersama empat rekannya mau diberangkatkan ke Universitas Al Azhar Kairo Mesir, namun sayang gagal karena adanya ‘fitnah’ dari kalangan internal.
Namun hal itu tak menyurutkan Rahmat untuk selalu belajar. Sejak berkenalan dengan Syeikh Mesir yang pernah dikenalkan KH. Abdullah Syafi’i padanya, ia mulai senang melahap berbagai buku dan pemikiran Islam seperti Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Al Maududi serta tokoh nasional seperti HOS Cokroaminoto dan M. Natsir.
Sedang dari perjalanan dakwah bersama remaja-remaja Kuningan, menjadikannya sangat suka kala berdiskusi dan berguru dengan tokoh-tokoh M Natsir, Mohammad Roem ataupun Syafrudin Prawiranegara. Rahmat pun mengakui secara terus terang mengadopsi logika dan metode orasi yang ia ambil dari sang orator Isa Anshari dan Buya Hamka serta sang gurunya sendiri, Abdullah Syafi’i yang masyhur dengan teriakan lantang penggugah jiwa.
Rahmat remaja meski dikenal sebagai demonstran tapi sosoknya dikenal lembut, bahkan dianggapnya seringkali tidak bisa marah. Kemarahannya akan terlihat meledak jika Islam dilecehkan. Sebagaimana saat mendengar pembicaraan sang kakak, Rahmi, saat meminta kolega bisnisnya yang bekerja sebagai Kopasanda -Kopassus- untuk melunasi hutangnya. Tapi Kopassanda malah menjawab, “Nabi saja bisa meleset janjinya.” Kontan mendengar pernyataan itu Rahmat keluar dari ruangan samping dan langsung berucap, “Nabi yang mana janjinya tidak tepat,” Kopasanda itu malah menjawab, “Anda ndak usah ikut campur dengan urusan ini.” Rahmat remaja langsung menyambut, “Suara Bapak terdengar di telinga saya di sini, sekali pun bapak berpakaian dinas, nabi yang mana yang ingkar janji itu,” ujar Rahmat menahan emosi. Akhirnya Kopasanda itu minta maaf.
Sikap tegas ini lah yang menjadikan Rahmat Abdullah muda sangat disegani para pemabok ataupun preman. Karena caranya mendekati yang bersahabat. Bahkan, meski pernah kakaknya disakiti jagoan Kuningan waktu itu, H. Hamdani, ia tetap bisa menghadapinya dengan baik. Malah anak jagoan itu yang kemudian sempat ditahan polisi.
Anak-anak muda, preman, seniman semuanya ia rangkul terutama dalam wadah seni teater yang sering ia gelar di lapangan depan masjid Raudhtul Fallah —lapangan yang berada di belakang Dubes Malaysia saat ini-. Di tempat inilah Rahmat muda sering mengekspresikan syair dan puisinya serta peranan imajinasi dan pemikirannya sebagai sutradara teater dengan menggelar pagelaran teater drama terbuka. Teater yang terakhir kali ia pentaskan berjudul “Perang Yarmuk” yang tampil bersama Abdullah Hehamahua (1984). Dimana pementasannya sempat dikepung oleh intel dan aparat keamanan karena dianggap subversif di masa kekuasan Suharto.
Selepas pentas pun, tak ayal Rahmat dipanggil untuk menghadap KODIM. Namun Rahmat justru menjawab “Kalau yang memanggil Ibu, saya akan datang. Kalau yang memanggil KODIM sampai kapan pun saya tak akan pernah datang. Kalau mau saya datang ke KODIM, datang dulu ke ibu saya,” ungkap Rahmat muda menjawab aparat dari kodim yang melayangkan surat panggilannya. Bahkan salah satu aparat KODIM, Soeryat, sempat menangis di hadapan Rahmat muda karena nasehat-nasehatnya agar tidak saling ‘memberangus’ sesama Muslim.
Keasyikan menceburkan diri dalam dakwah, rupanya menjadikan Rahmat tak sadar telah dimakan usia. Rahmat baru tersadar ketika seorang teman yang baru menikah mengingatkan sudah waktunya memikirkan bangunan rumah tangga. Barulah ia menyadari usianya sudah memasuki tahun ke-32.
Malam itu, malam Kamis 14 Ramadhan 1405 H. (1984 M), bertiga; Rahmat, ibunda dan bibi datang mengkhitbah seorang anak yang pernah menjadi muridnya, Sumarni, tatkala Rahmat duduk di kelas II MTs. Saat itu Sumarni masih menjadi siswi kelas I Madrasah Ibtidaiyah (lk. Umur 5 tahun). Ia adalah sang nominator juara I untuk lomba praktik ibadah.
Saat berlangsungnya khitbah, ketika keluarga Rahmat mengajukan usulan walimah bulan Syawal seperti kebiasaan Rasululllah saw, seorang ustadz wakil dari perempuan mengatakan, “Itu tetap walimah, tetapi Anda tidak akan menemukan keberkahan seperti bulan (Ramadhan) ini.” Akhirnya, disepakati untuk nikah besok malamnya, malam Jum’at 15 Ramadhan. “Soal KUA urusan Ane, tinggal terima surat aje,” ujar ustadz tadi. “Bah, ini rada-rada ketemu,” ujar Rahmat muda dalam hati.
Walhasil sampai menjelang rombongan berangkat 15 Ramadhan itu, masih ada teman pemuda masjid yang bertanya, “Ini mau kemana sih?” Apalagi suasana saat itu memang masih represif. Bahkan belum sebulan menikah, di pagi buta ba’da subuh sesaat setelah peristiwa Tanjung Periok, Rahmat telah dijemput untuk mendengarkan rekaman peristiwa penembakan massa di Tanjung Priok yang terjadi semalam. Pagi itu lelaki yang sudah mulai akrab dipanggil Ustadz Rahmat itu, bersama pemuda Islam lainnya langsung meninjau lokasi yang porak poranda. Mendengar peristiwa itu pun, sang mertua justru mengusulkan untuk selalu membawa sang isteri untuk diajak juga keliling berbagai kota di Jawa. “Untuk penjajagan sikap ummat dan apa yang kerennya disebut ‘konsolidasi’lah,” ujar Ustadz Rahmat saat diwawancarai beberapa saat lalu.
Setelah menikah, ia tinggal di Kuningan, bersama Ibu dan Adiknya. Hingga lahir tiga orang anaknya, Shofwatul Fida (19), Thoriq Audah (17) dan Nusaibatul Hima (15).
Pada pertengahan tahun 80-an Rahmat muda bergabung dengan Harakah Islamiyah yang saat itu tumbuh berkembang di Indonesia. Bersama Abu Ridho, Hilmi Aminudin dan beberapa tokoh pemuda Islam lainnya terus bersatu bergerak dalam dakwah yang lebih luas dan tertata. Gerakan dakwahnya ini lebih terinspirasi pada gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Banna di Mesir yang sama-sama menjadi acuan kalangan muda saat itu
Pemikiran Hasan Al Banna yang telah lama menginspirasi dakwah pribadinya kini telah bertemu implementasinya bersama teman-teman yang merintis pendidikan dan kaderisasi dalam rangka penyadaran akan Islam dan mempertahankan kemurniannya. Di wadah baru inilah Rahmat selain berdiskusi, mengakses berbagai informasi tanpa melalaikan fungsi utama juga sebagai pendidik, penceramah, Rahmat merintis sebuah majalah Islam yang sangat disukai dan digemari kalangan muda. Namun sayang, saluran ekspresi pemikirannya itu harus dibredel di saat rezim orde baru mulai mengkhawatirkan kiprahnya. Namun pembredelan itu tak menyurutkan Rahmat untuk membuka lembaran baru berekspresi dalam dakwah.
Dan setelah 8 tahun menetap di Kuningan, ia mengontrak di Jl. Potlot I/ 29 RT 2 RW 3 Duren Tiga, Kalibata. Di sana lahir anaknya, Isda Ilaiha (13). Tapi panggilan dakwah sepertinya lebih memanggilnya. Tahun 1993 bersama murid-muridnya mencoba membangun pengembangan dunia pendidikan dan sosial dengan mendirikan Islamic Center Iqro’ yang terletak di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.
Di sini pula ia menetap dan memboyong keluarganya dari kontrakannya di Gang Potlot, Duren Tiga, Kalibata menuju tanah yang masih penuh rawa untuk berekspresi mengembangkan cita-citanya melalui kajian kitab-kitab klasik dan kontemporer. Di tempat terakhir ini merintis segala impian dan lahir anak-anaknya, Umaimatul Wafa (11), Majdi Hafizhurrahman (9), Hasnan Fakhrul Ahmadi(7).Di sini kesibukannya, semakin padat. Tetapi, kebiasaan pribadinya, untuk membaca, mengkaji Al Qur’an dan Tafsirnya, Hadits dan syarahnya tetap berjalan. Begitupun, kegiatannya mengisi pengajian di kantor, kampus, serta melayani berbagai macam konsultasi sejak lepas subuh hingga jam 08.00 pagi. Ditambah lagi kesibukan di Iqro’.

Bahkan, kegiatan rutin ini tetap ia jalani meskipun semenjak tahun 1999 ia diamanahi sebagai Ketua Bidang Kaderisasi di Sebuah Partai Islam. Demikian juga saat beralih menjadi Ketua Majelis Syuro sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai yang ia dirikan bersama teman-teman seperjuangan setelah lebih dari 10 tahun ia rintis.
Pada tahun 2004 sang aktivis demonstrasi, budayawan, filosof, guru dan pendidik yang disegani anak muda ini harus masuk ke gedung parlemen. Ustadz Rahmat terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Bandung, Jawa Barat. Dan baru pada saat Ustadz Rahmat Abdullah mencalonkan diri inilah Bandung untuk pertama kalinya dimenangkan partai Islam.
Meskipun telah menjadi wakil rakyat, Ustadz Rahmat dikenal dikalangan Komisi III sebagai wakil rakyat yang tetap bersuara lantang, namun penuh santun dan filosofis sekaligus puitis dalam mengkritisi setiap kabijakan. Tak peduli menteri, presiden dan pejabat manapun ia sampaikan kritikan tajam membangunnya yang seringkali menjadi wacana baru bagi para pemimpin negeri ini.
Bahkan jabatan terakhir sebagai Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi Partai, ia emban dengan penuh amanah dan luapan semangat hingga akhir hayatnya saat ia harus dijemput kematian sesaat setelah berwudhu hendak menunaikan penghambaan pada sang Khalik, Selasa (14/6).
Sebuah harapan yang mungkin telah engkau ungkapkan sepekan sebelum dirimu meninggal. Dimana tidak biasanya dirimu ditegur isterimu ketika membuka album-album kenanganmu. “Lihat nih, orang Betawi kini telah keliling dunia, ke Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Amerika juga Makkah. Tinggal ke akheratnya saja yang belum,” ujarmu berseloroh yang kini telah kau buktikan.
Demikian biografi singkat KH Rahmat Abdullah, semoga Allah melapangkan kuburnya, yang kami kutip dari warisansangmurabbi.com. Beberapa tulisan beliau bisa disimak di Hasanalbanna.com.

From: Fimadani.com dengan beberapa perubahan

Sabtu, 25 Juni 2011

Mengenal Sosok Muda Imam Hasan Al-Banna

Nama “Hasan Al-Banna” selalu lekat dengan jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimun, karena beliau adalah pendiri dan menjadi Mursyid ‘Am pertama jamaah tersebut. Sekalipun sang imam “Al-Banna” -semoga Allah merahmatinya-, tidak mengenyam kehidupan lebih dari 42 tahun, namun pada masa hidupnya banyak memberikan kontribusi dan prestasi yang besar sehingga banyak terjadi lompatan sejarah terutama dalam melakukan perubahan kehidupan umat menuju Islam dan dakwah Islam yang lebih cerah, banyak perubahan-perubahan yang dicapai olehnya, apalagi saat beliau hidup kondisi umat dalam keadaan yang begitu parah dan mengenaskan, keterbelakangan, ketidakberdayaan, kebodohan umat, dan ditambah dengan penjajahan barat.
42 tahun kalau diukur dari perjalanan sejarah merupakan waktu yang singkat, merupakan usia yang belum bisa memberikan apa-apa, walaupun umur sejarah tidak bisa diukur berdasarkan tahun dan hari, namun dapat juga diukur dari banyaknya peristiwa yang berdampak pada perubahan kondisi, situasi dan keadaan, dan inilah yang selalu melekat pada sosok Hasan Al-Banna, beliau banyak memberikan pengaruh dalam perubahan sejarah, dan beliau juga merupakan salah satu dari orang yang memberikan kontribusi melakukan perbaikan dan perubahan dalam tubuh umat. Sekalipun umur beliau relatif pendek namun beliau termasuk orang yang mampu membuat sejarah gemilang.
Setiap orang pasti memiliki faktor yang dapat dinilai mampu memberikan kontribusi dan saham dalam pembentukan karakter dan jati dirinya dan menentukan berbagai hakikat yang dipilihnya. Dan bagi pemerhati lingkungan yang di dalamnya hidup sang imam Al-Banna akan dapat menemukan awal yang baik, dan karena itu berakhir dengan baik. Seperti dalam ungkapan: “Akhir yang baik mesti diawali dengan permulaan yang baik”.
Dan imam Al-Banna kecil (muda) hidup dibawah naungan dan lingkungan yang bersih dan suci. Dan rumah yang di dalamnya hidup sang imam juga merupakan rumah yang tershibghah dengan shibghah islam yang hanif. Orang tuanya bernama syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Bann. Beliau adalah seorang imam masjid di desanya, dan seorang tukang reparasi dan penjual jam. Namun disisi lain orang tuan Hasan Al-Banna adalah sosok pecinta ilmu dan buku, sehingga senang menuntut ilmu dan membaca buku, dan sebagian waktunya banyak dihabiskan untuk membaca dan menulis, dan beliau juga banyak menulis kitab, diantaranya adalah “Badai’ul Musnad fi Jam’I wa Tartiibi Musnad As-Syafi’I”, “Al-Fathu Ar-Robbani fi Tartiibi Musnad Ahmad As-Syaibani”, “Bulughul Amani min Asrori Al-fathu Ar-Robbani”
Bahwa komitmen dengan Islam dan manhaj robbani sangat membutuhkan pondasi utama pada lingkungan yang menggerakkannya, agar dapat tumbuh dan besar seperti pondasi tersebut, dan jika tidak ada lingkungan yang mendukung maka akan menjadi sirna dan mati sejak awal kehidupannya. Dan Allah telah memberikan karunia besar terhadap imam “Al-Banna” dengan lingkungan yang baik ini. Orang tuanya memberikan tarbiyah sejak awal dengan baik; meumbuhkan kecintaan  terhadap Islam kepada anaknya sejak dini, selalu memelihara bacaan dan hafalan Al-Qur’an, sehingga memberikan kepada pemuda tersebut waktu dan tenaga yang cerah dalam berfikir dan berdakwah, dan pada saat itu pula –yang mana pada saat itu- Islam telah tertutupi oleh kehidupan yang bebas dan politik yang rusak, tampak menjadi asing –bahkan aneh dan tidak wajar- melihat seorang pemuda yang begitu besar komitmennya terhadap ajaran Islam sampai pada masalah waktu, atau dalam menunaikan ibadah shalat dengan penuh kedisiplinan.
Sejak awal dapat kita lihat bahwa imam Al-Banna telah menentukan jalannya dan karakter hidupnya; yaitu jalan hidup yang beliau lakoninya dalam kehidupannya secara pribadi yang unik; komitmen terhadap Islam dan manhaj robbani dan interaksinya dengan orang lain dengan baik dan sesuai dengan ajaran Islam. Baliau begitu terkesan dengan hadits Nabi dan begitu kuat berpegang teguh dengannya; yaitu hadits Nabi saw: “Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara.. diantaranya adalah “masa mudamu sebelum datang masa tuamu”, begitupun dengan hadits Nabi saw lainnya: “ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada saat tidak ada naungan kecuali naungannya.. diantaranya adalah “seorang pemuda yang taat beribadah kepada Allah”.
Maka dari itu imam “Al-Banna” kehidupannya adalah islam dan tidak ada yang lain dalam diri dan hidupnya kecuali Islam. Hal itu tampak juga dengan jelas pada beberapa lembaga atau yayasan yang sejak kecil beliau loyal kepadanya, yang kesemuanya merupakan lembaga atau yayasan Islam, seperti “Jam’iyyah As-Suluk wal Akhlak” dan “Jama’ah An-Nahyu Al-Munkar”, dan beliau juga memiliki hubungan yang erat dengan harakah sufiyah yang pada saat itu marak tersebar di berbagai pelosok daerah dan kota di Mesir.
Adapun diantara faktor lain yang membantunya komitmen di jalan kebenaran adalah karena beliau begitu banyak beribadah dan taat kepada Allah, sejak mudanya beliau sering melakukan puasa sunnah, khususnya puasa sunnah yang berhubungan dengan hari-hari besar Islam, dan lebih banyak lagi beliau melakukan puasa hari sunnah senin dan hari kamis pada setiap minggunya, karena mentauladani sunnah nabi saw,  sebagaimana beliau juga sangat bersemangat melakukan puasa sunnah rajab dan sya’ban. Kebanyakan dari kita mungkin merasa asing dalam melakukan ketaatan seperti itu, atau merasa berat melakukannya terutama di saat kondisi zaman seperti ini. Sebagaiman usaha yang dilakukan imam Al-Banna dalam ketaatan juga menadapatkan kesulitan, terutama disaat kondisi yang saat itu dialami; adanya gerakan missionaries, globalisasi dan penjajahan yang telah meluas dan merambah dengan cepat di tengah kehidupan masyarakat Mesir saat itu; sehingga memberikan kontribusi yang besar dalam menjauhkan umat dari Islam apalagi untuk komitmen dengan ibadah dan ketaatan.
Namun imam Al-banna, hidup melawan arus, beliau berada dalam semangat Islam yang tinggi, berpegang dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah, sekalipun umat saat itu sedang diliputi arus globalisasi dan pencampakkan jati diri Islam; sehingga mengakibatkan acuhnya umat terhadap Islam dan jauhnya umat –terutama para pemudanya- dari kehidupan beragama, apalagi juga banyaknya bermunculan seruan dan propaganda asing terhadap dunia Islam seperti liberalisme dan komunisme serta gerakan missionaris yang mengajak untuk jauh dari Islam dan berlaku hidup modernis seperti mereka.
Sekalipun demikian imam Al-Banna tetap berpegang teguh dan yakin dengan keislamannya bahkan merasa bangga dengannya. Dan pada saat berdiri Universitas Cairo, dan Dar El-Ulum merupakan salah satu bagian dari kuliah yang ada di dalamnya; yang di dalamnya menghadirkan ilmu-ilmu kontemporer, ditambah juga dengan ilmu-ilmu syariah dan pengetahuan tradisional yang telah masyhur di Universitas Al-Azhar sebelumnya. Dan -pada saat itu pula- Imam Al-Banna mendaftarkan diri untuk kuliah di Dar El-Ulum, walaupun beliau tidak merasa cukup dengan ilmu yang di dapat di kuliah sehingga beliau mencarinya ditempat yang lain sebagai tambahan; seperti beliau selalu hadir mengikuti majlis ilmu pimpinan syaikh Rasyid Ridha, dan beliau sangat terkesan dengan tafsirnya yang terkenal yaitu “Al-Manar”.
Namun hal tersebut tidak menghalangi dirinya mendapatkan nilai yang begitu baik dan cemerlang, sehingga beliau berhasil menamatkan kuliahnya dengan hasil yang gemilang, dan beliau merupakan angkatan pertama kuliah tersebut. Lalu -setelah itu- beliau diangkat sebagai guru pada madrasah ibtidaiyah disalah satu sekolah yang terletak di propinsi Ismailiyah, yaitu pada tahun 1927, dan di kota tersebut Imam Al-Banna muda tidak hanya terpaku pada jati dirinya sebagai guru madrasah ibtidaiyah, namun beliau juga menjadi da’i kepada Allah, yang pada saat itu masjid-masjid disana kosong dari pemuda. Sehigga tidak ada anak-anak muda yang sholat di masjid namun asyik dengan minuman alkohol yang memambukkan. Maka tampaklah beliau sebagai seorang pemuda yang ahli ibadah, taat kepada Allah dan sebagai da’i kepada Allah yang mengajak umat untuk kembali pada Islam yang hanif.
Dan di kota Ismailiyah pula Imam Al-Banna banyak melakukan interaksi dengan lembaga-lembaga Islam dan beliau tampil sebagai da’i dengan berbagai sarana yang dimiliki dan berkeliling ke berbagai tempat dan desa. Beliau pergi sebagai da’i dan membawa kabar gembira tentang agama Islam. Beliau menyeru dan mengajak manusia yang berada tempat-tempat perkumpulan mereka, dan diatara tempat perkumpulan yang sering belaiu datangi adalah café. Disana beliau memberikan kajian keagamaan, terutama pada sore hari ini, sehingga dengan kajian yang beliau sampaikan banyak menarik perhatian sebagian besar masyarakat pengunjung cafe; sehingga menjadikan pemilik café tersebut berlomba-lomba mengundang Imam Al-Banna untuk memberikan kajian sore di café-cefe milik mereka. Dan akhirnya di kota Ismailiyah –dengan taufik dari Allah- dan dengan keberkahan akan juhud dan keikhlasannya, Imam Al-Banna mampu mengeluarkan cahaya dakwah terbesar dan memberikan pengaruh yang sangat besar hingga saat ini. Yaitu berdirinya Gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dipimpin langsung oleh Imam Al-Banna. Padahal saat itu umur beliau masih muda sekali, baru mencapai antara tidak terlalu muda, tidak baya dan juga tidak terlalu tua. Pemuda yang ahli ibadah itulah yang telah mampu mendirikan gerakan dakwah Islam terbesar di dunia saat ini.
Sosok Imam Al-Banna memiliki banyak keistimewaan, sosok yang universal dan seimbang, pemuda aktivis, seorang khatib yang antagonis, memiliki perasaan yang lembut, dan komunikatif dengan semua orang; baik dengan orang awam, petani dan buruh. Beliau juga seorang cendekiawan yang memiliki ilmu, yang mampu berinteraksi dengan para cendekiawan lainnya. Saat berada ditengah umat manusia, banyak yang takjub kepadanya baik dari kalangan cendekiawan, hartawan, awam, petani dan buruh serta yang lainnya. Ini semua sejalan dengan dakwahnya yang didasarkan pada pembentukan umat, dakwah dan individu yang seimbang dalam berbagai sisinya.
Dan Imam Al-Banna juga sangat memiliki karakter yang mampu memberikan pengaruh pada orang yang ada disekitarnya, hal ini kembali pada pondasi yang beliau miliki yaitu kedekatan diri kepada Allah -Kita berharap demikian dan kita tidak merasa paling suci kecuali hanya Allah-. Dan kita temukan bahwa dakwah Al-Ikhwan –dan Al-Ikhwan itu sendiri- telah terpengaruh dengan sosok imam Al-Banna; karakternya yang baik, ikhlas dan taat kepada Allah, yang kesemuanya bersumber pada cahaya kenabian. Sebagaimana beliau juga memiliki sosok yang mumpuni dan lemah lembut, selalu perhatian dan menolong orang-orang yang mazhlum, dan dalam sejarahnya telah banyak disaksikan bahwa usaha dan kerja al-ikhwan di berbagai tempat, daerah dan negara selalu membela hak-hak umat Islam yang terampas.

Oleh karena itulah bagi kita dapat mengambil ibrah dari perjalanan sosok pemuda yang berhimpun di dalamnya jiwa yang memiliki nilai-nilai mulia dan agung, bagaimana jiwa tersebut dapat mampu membangun generasi yang islami, tidak menyimpang dari jalan Allah dan menepati dan menunaikan amanah yang diembannya dengan optimal dan baik, sekalipun kondisi, ujian dan cobaan yang dihadapi selalu datang silih berganti dalam rangka berpegang teguh pada jalan Allah dan agama Islam serta dalam usaha meninggikan kalimat (agama) Allah dan mentauladani sirah nabi saw.

FORUM STUDI ISLAM (FOSI) 2020

  UKM LDF Al m udarris memiliki enam bidang yang masing-masing bidangnya menjalankan program kerja yang bermacam ragam , termas...