Translate

Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2016

Fadhillah dan Keutamaan Berqurban







SUNGGUH selalu ada hikmah di setiap perintah yang Allah Subhanahu Wata’ala serukan kepada kita umatnya, meskipun jika dipandang berat menjalaninya. Begitulah perintah berqurban yang didasari kepada kisah sepasang ayah dan anak nan sholeh, nabiyullah Ibrahim dan putranya Ismail alaihi sallam.
Pada hakekatnya berqurban adalah wajib bagi yang mampu. Ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.
أخبرنا الحسن بن يعقوب بن يوسف العدل ، ثنا يحيى بن أبي طالب ، ثنا زيد بن الحباب ، عن عبد الله بن عياش القتباني ، عن الأعرج ، عن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من وجد سعة لأن يضحي فلم يضح ، فلا يحضر مصلانا »
“Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : Siapa yang memperoleh kelapangan untuk berkurban, dan dia tidak mau berkurban, maka janganlah hadir dilapangan kami (untuk shalat Ied).” [HR Ahmad, Daru qutni, Baihaqi dan al Hakim]
1. Qurban Pintu Mendekatkan Diri Kepada Allah
Sungguh ibadah qurban adalah salah satu pintu terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagaimana halnya ibadah shalat. Ia juga menjadi media taqwa seorang hamba. Sebagaimana firman Allah surat Al-Maidah ayat 27, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa”.
Berqurban juga menjadi bukti ketaqwaan seorang hamba.
Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS:Al Hajj:37)
2. Sebagai sikap Kepatuhan dan Ketaaan pada Allah
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” [QS: Al Hajj : 34]
3.Sebagai Saksi Amal di Hadapan dari Allah
Ibadah qurban mendapatkan ganjaran yang berlipat dari Allah SWT, dalam sebuah hadits disebutkan, “Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kabaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Juga kelak pada hari akhir nanti, hewan yang kita qurbankan akan menjadi saksi.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ ابْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنِي أَبُو الْمُثَنَّى عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” [HR. ibnumajah No.3117].
4. Membedakan dengan Orang Kafir
Sejatinya qurban (penyembelihan hewan ternak) tidak saja dilakukan oleh umat Islam setiap hari raya adha tiba, tetapi juga oleh umat lainnya. Sebagai contoh, pada zaman dahulu orang-orang Jahiliyah juga melakukan qurban. Hanya saja yang menyembelih hewan qurban untuk dijadikan sebagai sesembahan kepada selain Allah.
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (qurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” [QS: al-An’am : 162-163]
5. Ajaran Nabiullah Ibrahim AS
Berkurban juga menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim – ‘alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَلَفٍ الْعَسْقَلَانِيُّ حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ مِسْكِينٍ حَدَّثَنَا عَائِذُ اللَّهِ عَنْ أَبِي دَاوُدَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ
“Berkata kepada kami Muhammad bin Khalaf Al ‘Asqalani, berkata kepada kami Adam bin Abi Iyas, berkata kepada kami Sullam bin Miskin, berkata kepada kami ‘Aidzullah, dari Abu Daud, dari Zaid bin Arqam, dia berkata: berkata para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.” [HR. Riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3127]
6. Berdimensi Sosial Ekonomi
Ibadah qurban juga memiliki sisi positif pada aspek sosial. Sebagaimana diketahui distribusi daging qurban mencakup seluruh kaum muslimin, dari kalangan manapun ia, fakir miskin hingga mampu sekalipun.
Sehingga hal ini akan memupuk rasa solidaritas umat. Jika mungkin bagi si fakir dan miskin, makan daging adalah suatu yang sangat jarang. Tapi pada saat hari raya Idul Adha, semua akan merasakan konsumsi makanan yang sama.
Hadits dari Ali bin Abu Thalib,
وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: { أَمَرَنِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ أَقْوَمَ عَلَى بُدْنِهِ, وَأَنْ أُقَسِّمَ لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلالَهَا عَلَى الْمَسَاكِينِ, وَلا أُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئاً } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ
”Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya, membagi-bagikan dagingnya, kulit dan pakaiannya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi sesuatu apapun dari hewan kurban (sebagai upah) kepada penyembelihnya.” Wallahu ‘alam bisshawab

Selasa, 03 Mei 2016

HISTORY : Meneladani Semangat Jihad Fatahillah

Meneladani Semangat Jihad Fatahillah

Sejarah Fatahillah menaklukkan pasukan Portugis di Sunda Kalapa atau Jayakarta, adalah salah satu bukti bahwa Jakarta pernah menjadi wilayah kekuasaan Islam
Meneladani Semangat Jihad Fatahillah
Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta

Oleh: Dina Farhana

MENELUSURI sejarah Jakarta bisa dimulai dari Pelabuhan Sunda Kalapa. Pelabuhan ini menjadi sentral perdagangan Nusantara yang dikuasai oleh kerajaan Sunda Pajajaran, sebuah kerajaan bercorak Hindu Budha, yang memiliki dua kawasan pelabuhan, yaitu Sunda Kalapa dan Banten. Pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan terbesar di Jawa Barat dan keberadaannya menjadi sangat penting bagi pusat perdagangan internasional Nusantara.
Bangsa Katolik Portugis memulai imperialismenya dengan menguasai Malaka, tahun 1511. Kepentingan politik Portugis dalam menguasai Nusantara tidak hanya sebatas bada menguasai perdagangan dan menjarah kekayaaan alam Nusantara, namun juga pada misi agamanya untuk menyebarkan ajaran Katolik.  Tidak berhenti disitu, bangsa Portugis meluaskan ekspansinya dengan menaklukan wilayah Aceh di Sumatera, dan Sunda Kalapa di Jawa.
Tahun 1522, bangsa Portugis berhasil menguasai pelabuhan Sunda Kalapa dengan membuat perjanjian kerjasama dengan kerajaan Pajajaran. Isi perjanjian antara lain:  Pajajaran akan menjual lada kepada Portugis dan Portugis diperkenankan membangun benteng di Sunda Kelapa. Namun sebelum pelaksanaan pembangunan benteng tersebut, bangsa Portugis banyak mengalami penyerangan oleh pasukan Islam. Sultan Mahmud Syah menyerang benteng Portugis di Malaka;  kekuasaan Portugis di Maluku diserang oleh Kesultanan Tidore dan Ternate. Begitu juga dengan Panglima Fatahillah yang menaklukan kekuasaan Portugis di Tanah Jawa.
Penyerangan terhadap kekuasaan Portugis di Sunda Kalapa dipimpin oleh Fatahillah, yang tak lain adalah menantu dari Sunan Gunung Jati.  Fatahillah diangkat sebagai panglima perang oleh Raja Kerajaan Islam Demak untuk menaklukan penjajahan Portugis di Tanah Sunda. Pasukan perang Fatahillah mendapatkan bantuan armada dari kerajaan Islam Demak dan Kerajaan Islam Cirebon, sehingga pasukan Islam memiliki pertahanan yang cukup kuat. Awal penyerangan pasukan Fatahillah diarahkan kepada penaklukan kerajaan Pajajaran di Banten. Lalu setelah itu melanjutkan penyerangan terhadap pasukan portugis di Pelabuhan Sunda Kalapa.
Pasukan Portugis dibawah pimpinan Fransisco de Sa, masih berusaha menagih janji atas perjanjian kerajaan Pajajaran dengan Pasukan Portugis untuk mendirikan benteng di Pelabuhan Sunda Kalapa. Namun karena Sunda Kalapa sudah berada dalam kekuasaan pasukan Fatahillah, tentu Fatahillah menolak tuntutan tersebut. Maka dengan kekecewaannya Portugis mengancam akan menghancurkan Sunda Kalapa beserta pasukan Islam. Tapi, Fatahillah tak gentar menghadapi perlawanan tersebut.
Tidak lama kemudian, pecahlah pertempuran dahsyat. Pasukan darat Katolik Portugis menggunakan senjata pedang, bedil, dan meriam serta berlindung dengan topi baja. Sedangkan pasukan Islam jalur darat menggunakan senjata tombak, kujang, pedang, keris dan meriam-meriam. Armada kapal perang Fransisco de Sa maupun Fatahillah menggunakan meriam dan senjata api lainnya. (Drs. Edi S. Ekadjati, Fatahillah Pahlawan Arif Bijaksana, Jakarta: Penerbit PT. Sanggabuwana, hal. 45)
Pasukan Fatahillah tetap bergerak mengepung pasukan meriam Portugis. Komando Fatahillah untuk menyerbu terdengar lantang oleh pasukan Islam. Dengan bergerak cepat disertai semangat jihad yang selalu berkobar membuat pasukan Portugis berada dalam serangan dahsyat. Pertarungan sengit untuk membunuh lawan semakin berkecamuk. Banyak korban dari pihak Portugis berjatuhan. Portugis tidak mampu menahan serangan bertubi-tubi dari pasukan Kerajaan Islam Demak, sisa pasukan Portugis terdesak mundur dari darat dan melarikan diri menuju armada kapal. Masih dalam keadaan pelarian, pasukan Portugis dikejar pasukan Islam. Salah satu armada kapal Portugis terkena sasaran meriam armada kapal Fatahillah. Kapal Portugis itu terbakar, kemudian tenggelam ditelan lautan. (Ibid, hal. 46)

perjuangan untuk menegakkan Islam di Jakarta merupakan tugas bagi para pemimpin-pemimpin setelah Fatahillah
Kemenangan yang didapat pasukan Islam atas jatuhnya kekuasaan Portugis di Sunda Kalapa terjadi pada tahun 1527 M. Kemenangan ini semata-mata bukan hanya karena hasil perjuangan Fatahillah dan pasukannya, melainkan juga karena adanya pertolongan Allah untuk meneguhkan ajarannya di tanah Jakarta. Sultan Trenggono, Raja Kerajaan Islam Demak mengangkat Fatahillah menjadi gubernur Sunda Kalapa, dan Sunda Kalapa menjadi wilayah mandat kerajaan Islam Demak. Nama Sunda Kalapa setelah itu diganti oleh Fatahillah dengan nama Jayakarta yang artinya kemenengan yang nyata. Nama ini diambil dari surat al Fath ayat 1, Allah berfirman:
إنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
Artinya: Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”  (Q.S. Al-Fath [48]: 1)
Sejarah Fatahillah menaklukkan pasukan Portugis di Sunda Kalapa atau Jayakarta, adalah salah satu bukti bahwa Jakarta pernah menjadi wilayah kekuasaan Islam. Islam berdiri teguh untuk menaklukan kemungkaran para penjajah portugis yang berkuasa. Selain itu, usaha pasukan Islam dibawah kepemimpinan Fatahillah dengan semangat jihadnya untuk memerangi tindakan tidak berperikemanusiaan kaum penjajah terhadap masyarakat Nusantara.
Mengambil hikmah sejarah Jakarta,  perjuangan untuk menegakkan Islam di Jakarta merupakan tugas bagi para pemimpin-pemimpin setelah Fatahillah. Jakarta sebagai jantung Nusantara, seharusnya menjadi  kelanjutan bagi perjuangan ulama-ulama  terdahulu dalam menegakkan Islam di Ibukota dan seluruh Nusantara. (2 Mei 2016).
(source :http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2016/05/03/94241/meneladani-semangat-jihad-fatahillah.html)

Senin, 02 Mei 2016

HARI PENDIDIKAN NASIONAL

HARI PENDIDIKAN NASIONAL : 20 MEI 2016
"Ilmu Tanpa Amal adalah Omong Kosong, Amal Tanpa IlmumAdalah Kesesatan"


Selamatkan Pendidikan Indonesia dari Keterpurukan, 
Selamatkan Pendidikan Indonesia Dari Penjajahan
Selamatkan Pendidikan Pedalaman Indonesia
Selamatkan Pendidikan Indonesia dari Degradasi Moral
Selamatkan Pendidikan Indonesia dari Keterbelakangan
"Selamatkan Pendidikan Indonesia"

-Penunggang Badai-


Aku, Kamu, Dakwah, dan Cinta



"AKU, KAMU, DAKWAH, DAN CINTA"



Karena Cinta adalah Sumbernya, Hati dan Jiwa Rumahnya..........
(Source : https://www.youtube.com/watch?v=ZN24d9JvvA4&feature=youtu.be)

Kamis, 28 April 2016

Loss of Adab dan Kepercayaan Diri Muslim

SAAT ini ada suatu penyakit mental serius yang menjangkiti kaum Muslimin. Yaitu mental ketidak percayaan diri terhadapa Islam dan sebagai Muslim. Ini merupakan jenis penyakit hati. Perasaan diri minder sebagai Muslim ini tentu saja memang karena sudah kehilangan kebanggaan terhadap simbol-simbol Islam.
Di satu sisi, ada upaya simbol-simbol Islam distigmatisasi dengan pandangan buruk, rendah, anti kemajuan, bodoh dan lain sebagainya. Mau cerdas jangan fanatik agama. Ulama, kiai dan santri adalah kaum terbelakang. Pesantren itu kotor. Al-Qur’an mengandung ajaran radikal. Inilah contoh statemen-statemen yang dipaksakan untuk dipercayai Muslim awam.
Akibatnya, sebagian kaum Muslimin lebih bangga dengan memakai simbol non-Islami. Perasaan minder tersebut muncul karena individu yang mengalami inferioritas merasa Islam itu betul-betul mempunyai kekurangan. Sehingga, perlu mencari “pelengkap” dari ajaran lain.
Mental inferiority complex sudah menjadi kenyataan yang makin memprihatinkan. Baru-baru ini, seorang non-Muslim pimpinan partai sekuler disambut gegap gempita oleh ratusan santri di sebuah pesantren. Mereka menyambut dengan hangat bak seorang ulama kenamaan. Para santri putra-putri merunduk, mencium tangan tokoh partai itu. Ini bukan sambutan biasa seorang tamu yang datang ke rumah seseorang. Dia bukan sekedar tamu yang cuma mau sowan ke kiai.
Apa alasannya? Bandingkan jika seumpama yang datang itu adalah Pak Darmaji penjual tempe di kampung. Meski, umpamanya, dia rajin shalat jamaah, tahajud dan sedekah, dia tak akan mendapatkan sambutan apa-apa di pesantren tersebut. Karena dia orang tidak terkenal, miskin dan dianggap bukan orang penting.
Tetapi, si non-Muslim pimpinan partai sekuler ini mendapatkan sambutan meriah. Apa sebab? Karena dia pemimpin partai, orang kaya bos media televisi nasional, kaya raya dan lain sebagainya. Inilah penghormatan yang tidak beradab.
Dalam kitab Asna al-Mathalib III halaman 114 diterangkan etika menghormati seseorang dengan mencium tangannya. Kitab ini menjelaskan bahwa orang sholih, berilmu atau orang-orang yang dianggap baik dari segi agamanya (diniyyah) harus dihormati dengan mencium tangannya. Bahkan hukumnya sunnah. Sementara hukumnya makruh menghormati dengan mencium tangan seorang Muslim karena kekayaannya atau karena hal lain yang bersifat duniawi. Dikutip dalam kitab tersebut sebuah hadis: “Barang siapa merendahkan hati pada orang kaya karena kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga agamanya”.
Lantas bagaimana menghormati orang kafir dengan mencium tangannya? Ibnu Hajar mengatakan bahwa bagi seorang Muslim tidak boleh mengagungkan orang kafir dengan cara mencium tangan. Barang siapa yang melakukannya untuk memperoleh harta si kafir, maka dia merupakan pendosa yang bodoh (Ibnu Hajar al-Haitami,Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra).
Itulah adab. Menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukannya. Orang berilmu, ulama, orang sholih, bertakwa kedudukannya lebih mulya daripada orang kaya yang tak berilmu. Kedudukan ulama lebih tinggi daripada Presiden. Kita wajib menghormati seorang karena ilmu dan ketakwaannya kepada Allah Swt.
Begitu pula kedudukan seorang Muslim lebih mulya daripada orang kafir. Saudara Muslim harus lebih dihormati daripada orang kafir. Sebabnya, orang kafir tidak adab kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka menentang menentang hukum Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja pantas disebut bi-adab (tidak beradab) seseorang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.
Seharusnya, kaum Muslim menghormati seseorang karena keimanan dan ketakwaannya. Bukan karena jabatannya, kekayaannya, kecantikannya dan popularitasnya. Masyarakat yang beradab adalah mereka yang menghargai ulama dan aktivitas keilmuan. Tidaklah beradab, jika ulama dan aktivitas keilmuan dikecilkan. Sementara tokoh partai dan aktivitas hiburan diagung-agungkan.
Kita tidak boleh keliru, yang kaya dimulyakan, sedangkan yang berilmu dihinakan. Ilmu harganya jauh lebih mahal daripada harta dunia. Orang kafir dimulyakan, sedang orang Muslim dicela-cela.
Wajib hukumnya memulyakan seseorang itu karena takwanya, ilmunya dan keimanannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang termulia disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Coba simak riwayat dari Imam Bukhari berikut ini. “Seorang laki-laki lewat didepan Rasulullah, Rasulullah berkata kepada seseorang yang duduk disisi beliau, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Orang yang disisi Nabi itu menjawab, “Ia adalah oaring dari golongan terhormat. Demi Allah, jika ia meminang, ia pasti diterima; jika ia meminta bantuan, pasti dibantu.” Rasulullah SAW diam. Kemudian lewat orang yang lain. Dan Rasulullah pun bertanya kepada orang yang disampingnya tadi, “Bagaimana pendapatmu tentang yang ini?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, dia orang dari golongan muslim yang miskin. Jika ia meminang, pasti ditolak; jika ia minta bantuan, pasti tidak ada yang membantu; jika ia berkata, pasti tidak ada yang mendengarkan ucapannya.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Orang ini (yang miskin) lebih baik daripada bumi dengan segala isinya dan orang yang tadi (yang dari golongan terhormat).” (HR. Bukhari).
Nabi Saw mengajarkan kepada sahabatnya itu tentang adab yang benar. Bahwa penghormatan kepada seseorang itu harus didasarkan oleh keisalaman atau keimanannnya bukan karena hartanya.
Nabi juga mengajarkan supaya kita bangga menjadi Muslim. Karena Islam adalah agama satu-satunya yang diridhoi oleh Allah. Juga satu-satunya agama wahyu. Mestinya ini menjadi kebanggaan kita. Seyogyanya seorang mensyukuri nikmat dari Allah berupa agama Islam. Sikap bangga menjadi Muslim inilah yang tertanam kuta pada generasi emas pertama kaum Muslimin di masa Nabi Saw. Yaitu para sahabatnya. Sehingga, mereka menjadi umat yang mulya, umat yang disegani oleh berbagai kaum di dunia. Umat yang dengan bangganya menaklukkan raksasas dunia saat itu, yatu kerajaan Persia.
Seorang Muslim patut bangga dan bersyukur dengan Islamnya. Sebab Islam adalah agama yang telah terbukti mampu menjelmakan peradaban yang agung dalam sejarah. Adian Husaini mengatakan yang patut disyukuri kaum Muslim adalah Islam dalam kenyataannya bukan mengandung konsep yang utopia atau angan-angan di atas kertas belaka. Tetapi, Islam adalah konsep-konsep praktis yang bisa dan telah terlaksana dalam kehidupan. Islam kini bukan hanya menjadi nama satu agama, tetapi juga telah diakui sebagai nama agama dan nama peradaban (hadharah/civilization) sekaligus. Bahkan, peradaban Islam merupakan peradaban yang unik, karena dibangun di atas landasan ajaran dan pemikiran Islam (Islamic thought).
Penulis Barat, Wallace-Murphy, bahkan mengakui kehebatan peradaban Islam ini. “Kita di Barat menanggung utang kepada dunia Islam yang tidak akan pernah lunas terbayarkan” (Adian Husaini,10 Kuliah Agama Islam Panduan Menjadi Cendekiawan Mulia dan Bahagia,hal. 34).
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah mengajarkan untuk bersikap percaya diri kepada orientalis Barat. Karena, menurutnya, orientalis itu meski dalam kajiannya hanya tahu parsial tentang ilmu-ilmu Islam. Sedangkan kita memiliki pandangan yang menyeluruh terhadap ilmu keislaman. Orientalis yang ahli syariah, tidak tahu akidah. Sedangkan ulama memandang dari berbagai sisi; syariah, akidah, tasawuf, dan lain-lain. Maka sepantasnya seorang santri tidak minder berdiri di hadapan orientalis Barat.
Kata Nabi Saw “Al-Islam Ya’lu wa Yu’la alaih” (Islam itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari Islam) (HR. al-Baihaqi dan Daruqutni). Karena itu, umat Islam diserahi tugas mulya oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi untuk mewujudkan rahmatan lil alamin, memakmurkan bumi dan mewujudkan keselamatan bagi manusia.
Karenanya, sangat aneh jika seseorang minder sebagai Islam, tidak percaya diri dengan agamanya yang hebat. Lalu lebih bangga dengan orang asing non-Muslim, bangga memakai baju kafir dan merasa mulia memakai cara berpikir orang kafir. Pemain bola kafir dimulyakan, sementara Ulama diabaikan. Karena kehilangan adab (loss of adab) itu, akhirnya mereka menjadi tidak percaya diri sebagai Muslim.
Dalam Islam, adab terkait dengan iman dan ibadah kepada Allah Swt. Ukuran seorang beradab atau tidak ditentukan berdasarkan ukuran sopan santun sekedar menurut manusia. KH. Hasyim Asy’ari mengatakan; Barangsiapa yang tidak memiliki adab, maka ia tiada memiliki iman, tauhid (yang sempurna) dan tidak melaksanakan syariah (KH. Hasyim Asy’ari,Adabul Alim wa Muta’allim).
Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapakan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya.
Martabat ulama yang sholih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada Allah. Maka orang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepada penguasa yang dzalim daripada guru ngaji di kampung yang sholih. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memulyakan tradisi keilmuan.*/Bangil, 26 April 2016
Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya
(Via :http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2016/04/27/93884/loss-adab-dan-kepercayaan-diri-muslim.html)

Rabu, 27 April 2016

Salam dari Salim A.Fillah : Setia dan Berlepas Diri

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah"

Oleh: Salim A Fillah
 DALAM film Kingdom of Heaven garapan Ridley Scott, adegan menegangkan itu berakhir menakjubkan.
“Aku tawarkan kepadamu”, ujar Shalahuddin kepada Balian dari Ibelin, “Jaminan keselamatan bagi seluruh penduduk Jerusalem; Ratumu, Uskup, para Ksatria, pria, wanita, dewasa, maupun anak-anak untuk keluar dengan damai dalam pengawalan kami ke daerah aman yang dikuasai teman-teman Kristen kalian. Takkan ada yang diganggu atau disakiti.”
“Tapi”, sahut Balian yang setengah terkejut, “Ketika orang-orang Kristen merebut kota ini, mereka membantai semua penduduknya dan menjadikan jalanannya digenangi darah.”
“Aku bukan orang seperti mereka”, tukas Sang Sultan. “Aku Shalahuddin. Shalahuddin. Orang yang berkebaikan untuk memuliakan agama.”
Lebih lima abad sebelum Shalahuddin berdiri di tempat itu, seperti dikisahkan Imam Malik, sahabat Nabi yang digelari Aminu Hadzihil Ummah, Abu ‘Ubaidah ibn Al Jarrah, memimpin sahabat-sahabat Rasulullah yang membuat warga Nasrani di Al Quds berkata, “Mereka ini lebih utama daripada Hawariyyun murid-murid ‘Isa Al Masih.”
Ketika dia harus mundur dari serbuan Romawi di salah satu jabhah, dia meminta maaf kepada penduduknya sebab tak lagi bisa melindungi mereka. Orang-orang Kristen Syam itupun menangisinya dan berkata, “Kalian berbeda agama, tapi lebih kami cintai daripada orang Romawi yang seagama. Hidup di bawah pemerintahan kalian jauh lebih kami sukai daripada mereka.”
Hari ini kita sulit membayangkan bagaimanakah akhlaq generasi Abu ‘Ubaidah dan generasi Shalahuddin; yang bahkan membuat musuh terpesona. Hari ini kita mungkin harus bersabar lebih panjang; jika ternyata para pembebas Masjidil Aqsha nanti harus sekualitas mereka ini.
Ini kita belum menyebut bagaimana Sang Khalifah yang naik unta bergantian dengan Aslam budaknya, memasuki Kota Al Quds tepat ketika giliran sang Amirul Mukminin menuntun dan sahayanya berkendara. Patriak Sophronius dan warga kota ternganga akan kebersahajaannya, juga alasannya menolak ketika disilakan shalat di gereja, “Aku khawatir kelak orang akan mengubah gerejamu menjadi Masjid dan beralasan, “‘Umar pernah shalat di sini.”
Salah satu simpul keimanan dalam Islam adalah Al Wala’ dan Al Bara’. Al Wala’ dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, antara lain; setia, mencintai, menolong, mengikuti, dan mendekat kepada sesuatu. Sedangkan kata Al Bara’ antara lain menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri, dan berada di pihak serta keadaan yang berbeda.
Dalam syari’at, wala’ seorang mukmin kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang mukmin berarti setia, cinta, serta mengutamakan segala hal yang mendatangkan keridhaanNya.
Nah, yang sering kurang pas diterjemahkan adalah Al Bara’ sebagai semata-mata benci. Ya, di dalamnya memang ada unsur benci karena Allah. Tetapi tidak dikatakan memiliki Al Bara’ jika seseorang membenci orang kafir, tapi dalam perilaku dan akhlaq dirinya sama atau bahkan lebih buruk.
Sesuai maknanya, Shalahuddin dan Abu ‘Ubaidah meneladankan pada kita bahwa yang akan dirasakan manusia dari adanya Al Bara’ adalah betapa berbedanya antara seorang muslim dengan yang bukan dalam kejujuran, keadilan, sikap amanah, belas kasih, dan akhlaq mulia yang ditampilkan.
“I’m not those men“, ujar aktor Ghassan Massoud yang memerankan Sang Sultan. Di kalangan pesantren Salafiyah dikenal ungkapan, “Lastu kahaiatikum“, yang harfiahnya bermakna “Aku tak seperti polah kalian.”
Terang benderang tampak, mereka membantai, dia berbelas kasih. Mereka aniaya, dia adil. Jika ditambahkan tentang kedatangan ‘Umar; mereka bermewah, dia bersahaja. Mereka tercela, dia terpuji.
Maka jika Al Wala’ tak hanya berarti cinta, namun juga mendidik diri untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh yang tercinta, yakni Allah dan RasulNya; maka Al Bara’ juga menjadi sempurna dengan menunjukkan keunggulan imani dalam hati yang teterjemahkan dalam laku sehari-hari.
Pekerjaan Rumah kita untuk menghadirkan pemimpin dengan Al Wala’ dan Al Bara’sedahsyat Shalahuddin dan Abu ‘Ubaidah pastilah masih panjang. Tapi jangan hilang harap lalu bermudah-mudah dalam menyerahkan jutaan jiwa beriman pada yang tak berwala’ pada Allah dan RasulNya.
Ayat berikut ini tetap akan menjadi panduan kita, tiada yang membatalkannya; sebab memilih pemimpin shalih adalah hajat dunia akhirat.
لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ
Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian terhadap siksaNya. Dan hanya kepada Allah kembali kalian.” (QS Ali Imran [3]: 28).*
Twitter @Salimafillah
(Via : hidayatullah.com)

Kamis, 25 Februari 2016

CORETAN KADER : SIAPA BILANG BERDAKWAH ITU KEWAJIBAN SETIAP MANUSIA [?]

SIAPA BILANG BERDAKWAH ITU KEWAJIBAN SETIAP MANUSIA [?]
Oleh : Wiwiek Pratiwi

Assalamualaikum sahabat...

        Sekiranya kata ‘SEHAT’ adalah jawaban saya atas prediksi kondisi hati dan raga sahabat-sahabat yang sedang membaca tulisan saya ini. Amin.
Mungkin ini bukan pertanyaan lagi, kenapa hidup ini tidak mudah? Kenapa dalam hidup harus ada pengorbanan? Kenapa kata ‘SUKSES’ selalu dipasangkan dengan kata ‘GAGAL’? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Ya, itu bukan pertanyaan. Karena jawaban bijak yang kita harapkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sejenis itu sudah sangat banyak beredar dipasaran. Kerennya lagi, saya sangat yakin bahwa kamu sendiri mampu menjawab pertanyaan itu dengan jauh lebih bijak dari kata-kata bijak yang beredar tersebut.
Kadang sering senyum-senyum sendiri saat ketemu dengan temen-temen bijak tapi kalo dengar kata ‘Dakwah’ langsung alergi.
Kok alergi? Kata siapa?
Kata saya. Karena dulu penyakit ‘alergi’ itu pernah menyinggahi saya. *nahlo
Itu sebelum saya tau bahwa ‘Dakwah’ dibayangan saya tak seluas daun kelor *ehh. Itu juga sebelum tau bahwa ada banyak kewajiban-kewajiban selain berbakti pada orang tua dan menuntut ilmu, masih ada lagi kewajiban yang sering pura-pura dilupakan oleh mereka yang kelihatan taat serta berilmu.
Lantas, apa sekarang saya sudah sangat paham akan maknanya ‘Dakwah’?
BELUM.... Masih belum sob.
Saya hanya tau bahwa mengajak teman untuk tidak telat kuliah lagi itu adalah DAKWAH. Mengajak teman tidak ‘mengutuk’ dosen lagi adalah DAKWAH. Mengajak teman menjaga lingkungan adalah DAKWAH. Mengingatkan teman untuk tidak buang sampah lagi adalah DAKWAH. Saling mengingatkan waktu shalat juga DAKWAH. Saling mendoakan teman adalah DAKWAH. Hingga saling menyapa plus tersenyum ketika berjumpa juga DAKWAH.
Masih sempit kan pengetahuan saya tentang dakwah?
MASIH...(Banget)
Karena arti dakwah yang sesungguhnya itu tidak harus berceramah di acara keagamaan, menulis tulisan-tulisan islami, ngajakin temen buat selalu hadir di Pengajian, Dzikir Akbar dan sejenisnya atau nasehati temen buat pake jilbab selebar apa (bagi cewek), sebagai tanda bahwa kita sudah berdakwah.
BUKAN, dakwah tak seberat itu sob. Dakwah juga tak se-boring itu.
Sederhananya, dakwah itu adalah kita mampu membedakan yang HALAL serta BAIK, kemudian yang BAIK serta PANTAS, dan yang PANTAS serta CUKUP. Kalau ibarat Ice Cream, dakwah itu adalah Ice Cream yang pastinya harus berlebel halal juga baik untuk kesehatan, kemudian Ice Cream itu cocok (pantas) dikonsumsi saat cuaca sekitar mendukung, dan pastinya tidak berlebihan (cukup) karena sesuatu yang berlebihan tidak akan baik.
Untuk kriteria berdakwah tersebut apakah setiap manusia mampu menjalankannya?
JELAS! MAMPU!
Karena Allah juga menegaskannya dalam penggalan surah Ali Imran Ayat 110 yang artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. ...”
So, setiap kita yang terlahir sebagai manusia akan otomatis bergelar agen dakwah.
Lalu siapa bilang berdakwah itu kewajiban setiap manusia?
JAWAB: Diri kita sendiri mengatakan WAJIB, karena kita mengakui bahwa kita adalah manusia serta umat terbaik yang Allah ciptakan. NGAKU nggak??
“Semoga saya (penulis) dijauhkan dari perkataan dan sikap menggurui, dan semoga tulisan ini bermanfaat, Jazakillah.”

Wassalam~

Senin, 22 Februari 2016

CORETAN KADER: KAWAN, LAWAN, ATAU KEPENTINGAN ?


KAWAN, LAWAN atau KEPENTINGAN?

Oleh : Zahratul Suci
Pernahkah kita merenungkan kenapa kita bisa berteman dengan seseorang? Karena dia baik, dia cantik? (bukan stiker iwan fals :D). Mungkin kita pernah membaca, di dalam al-Quran, Allah SWT menceritakan penyesalan manusia calon penghuni neraka di hari kiamat tiba disebabkan karena menjadikan seseorang sebagai kawan dekatnya yang membuatnya terperosok dalam neraka. Allah SWT berfirman:
يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan sebagai teman akrab(ku). Sesungguhnya ia telah menyesatkan aku dari al-Quran ketika al-Quran itu datang kepadaku.” (Q.S al-Furqan: 28-29)
Mereka pun saling menuduh dan menyalahkan, bahwa temannya itulah yang mengajak dan mendorongnya melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah SWT. Maka mereka --yang ketika hidup di dunia merupakan teman akrab, ketika tiba hari kiamat kelak menjadi musuh satu sama lain sebagaimana disampaikan dalam ayat lainnya. Allah SWT berfirman:

اَلْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu (datangnya hari kiamat), sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Zukhruf: 67)
Sadarkah kita selama ini persahabatan dengan motivasi kepentingan materi, atau manfaat duniawi lainnya, tidaklah akan kekal, bahkan tidak jarang masih di dunia pun sudah terjadi permusuhan. Yang dulunya berteman baik, ujung-ujungnya cekcok, dan saling membongkar aib. *truestory
Persahabatan yang kekal abadi adalah persahabatan antara sesama orang-orang yang bertakwa, persahabatan yang didasarkan pada landasan ketakwaan, bukan persahabatan yang didasarkan kepada kesamaan kepentingan duniawi, kesukuan, atau kebangsaan.
Persahabatan yang terbangun atas dasar Islam bisa dibuktikan dengan melihat sejauh mana kesesuaian mereka dengan syari’at Allah dalam menjalin hubungan.Kawan sejati adalah yang akan memberikan nasihat kepada sahabatnya, akan mengingatkannya ketika keliru, dan akan bekerjasama dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar di tengah-tengah manusia dapat dilaksanakan. Kawan sejati bukanlah kawan yang diam saja ketika sahabatnya menyimpang dari aturan Allah SWT.
"Pada suatu hari, ada dua orang pemuda sedang berkelahi, masing-masing dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Pemuda Muhajirin itu berteriak; 'Hai kaum Muhajirin, (berikanlah pembelaan untukku!) ' Pemuda Anshar pun berseru; 'Hai kaum Anshar, (berikanlah pembelaan untukku!) ' Mendengar itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dan bertanya:
مَا هَذَا دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ
'Ada apa ini? Bukankah ini adalah seruan jahiliah? ' Orang-orang menjawab;
لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا أَنَّ غُلَامَيْنِ اقْتَتَلَا فَكَسَعَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ
'Tidak ya Rasulullah. Sebenarnya tadi ada dua orang pemuda yang berkelahi, yang satu mendorong yang lain.'
Kemudian Rasulullah bersabda:
فَلَا بَأْسَ وَلْيَنْصُرْ الرَّجُلُ أَخَاهُ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا إِنْ كَانَ ظَالِمًا فَلْيَنْهَهُ فَإِنَّهُ لَهُ نَصْرٌ وَإِنْ كَانَ مَظْلُومًا فَلْيَنْصُرْهُ
“Tidak mengapa,hendaklah seseorang menolong saudaranya (sesama muslim) yang berbuat zhalim atau yang sedang dizhalimi. Apabila ia berbuat zhalim/aniaya, maka cegahlah ia untuk tidak berbuat kezhaliman dan itu berarti menolongnya. Dan apabila ia dizalimi/dianiaya, maka tolonglah ia!”(HR. Muslim dari Jabir r.a).
(Seharusnya) seperti inilah kita lakukan dalam setiap sisi kehidupan, siapapun teman kita, apakah dia miskin atau kaya, pejabat, penguasa ataupun rakyat jelata, persahabatan yang tercermin dengan sikap saling membantu dan memotivasi untuk berbuat keta’atan kepada Allah, dan saling mengingatkan dan mencegah dari pelanggaran syari’at-Nya.
Disisi lain ketika teman kita berbuat maksiyat, mengajak pacaran dan pergaulan bebas, melanggar aturan-Nya, memprovokasi umat untuk menolak syari’at-Nya, membuat aturan yang bertentangan dengan aturan-Nya, menggadaikan negeri ini kepada asing dengan kebijakan-kebijakannya, maka seharusnya sikap seorang sahabat adalah dengan mengingatkannya dan mencegahnya dari melakukan yang demikian tersebut, membiarkannya atau mensupportnya untuk berlaku dzolim bukanlah sikap seorang kawan sejati, bahkan ini adalah sikap yang akan mencelakakannya diakhirat kelak.

Kita memang harus siap berkawan dengan siapa saja --meskipun sebelumnya menjadi musuh kita-- jika Islam menghendaki kita harus bersatu. Sebaliknya, kita harus sanggup menjadikan siapa pun sebagai musuh kita --termasuk orang yang sebelumnya amat dekat dengan kita-- jika mereka menentang Islam, menghalangi dakwah, atau menyuburkan kemaksiatan, yang oleh karenanya Islam menghendaki kita menjadikannya sebagai musuh. Jadi, kawan dan lawan tak selalu abadi, namun kehendak Islamlah yang abadi, dan faktor itulah yang harus kita jadikan sebagai landasan dalam memilih kawan. Semoga Allah memberikan kawan-kawan sejati kepada kita, kawan yang bisa menjalani suka-dukanya kehidupan dalam langkah menggapai ridho Allah SWT.

Jumat, 19 Februari 2016

CORETAN KADER : EKSISTENSI PERGERAKAN DAKWAH MAHASISWA MENURUT PRESPEKTIF AL-QUR'AN

CORETAN KADER : EKSISTENSI PERGERAKAN DAKWAH MAHASISWA MENURUT PRESPEKTIF AL-QUR'AN

Oleh : Rizka Dewi

“Apa pun, siapa pun, kapan pun, di mana pun, bagaimana pun, aku tetap orang yang berpegang teguh terhadap idealisme yang kuyakini. Karena sejatinya seorang realistis hanya dapat bergerak dalam kehidupan dengan idealisme yang ia miliki dan yakini.”
Beranjak dari kalimat di atas, seyogianya setiap insan di dunia ini dapat memahami dengan baik perihal makna kehidupan hakiki yang diberikan oleh Allah SWT. Lebih jauh lagi mengenai kebermaknaan hidup itu sendiri. Ketika makna ditemukan, maka akan bahagia seseorang menjalani hidupnya. Sesungguhnya Allah SWT telah menegaskan bahwasanya hanya agama Islam sajalah yang pada akhirnya akan diterima oleh-Nya.
“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Pasca reformasi tahun 1998 terlihat dengan jelas kebebasan organisasi pergerakan dakwah, khususnya pergerakan dakwah mahasiswa yang sampai saat ini masih menunjukkan eksistensinya. Sebut saja Pelajar Islam Indonesia (PII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Lembaga Dakwah Kampus (LDK), dan masih banyak pergerakan dakwah lain yang tak dapat disebutkan satu per satu. Pergerakan-pergerakan dakwah tersebut menjadi sebuah pijakan dalam upaya membentuk peradaban baru yang dilandaskan Al Quran dan As-Sunnah. Tak pelak, semua pergerakan dakwah mahasiswa di Indonesia yang telah terbentuk hingga saat ini adalah sebuah kontribusi nyata dalam menunaikan amanah Allah SWT kepada umat-Nya untuk menjadi da’i dalam kondisi apa pun, Antum du’aat qobla kulli syai’in. Sebelum segala sesuatu kalian semua adalah para da’i.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)
Dan dua ayat ini pun menjadi penegas ayat sebelumnya.
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali ‘Imran: 110)
“Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”(Al Baqarah: 143)
Berbicara mengenai pergerakan kebangkitan Islam, takkan terlepas dari tokoh-tokoh yang menjadi pelopor sekaligus promotor pembaruan pergerakan kebangkitan Islam itu sendiri. Saat ini pergerakan dakwah mahasiswa di Indonesia sedikit banyak cenderung mengadopsi pergerakan Ikhwanul Muslimin yang digagas oleh Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna, lebih tepatnya terinspirasi oleh pergerakan beliau.
Mengambil istilah dari Fazlur Rahman, ia mengemukakan bahwa pergerakan Ikhwanul Muslimin yang digagas oleh Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna adalah pergerakan yang lebih menekankan pemikiran Islam secara total sebagai sistem hidup yang mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat atau biasa disebut kelompok ‘fundamentalisme Islam’. Selanjutnya pada tataran periodesasi pembaruan pergerakan kebangkitan Islam, para fundamentalis ini oleh Fazlur Rahman dimasukkan ke dalam pemikiran neorevivalisme. Seiring dengan perjalanan pergerakan kebangkitan Islam, tidak lama sejak bermekarannya pemikiran neorevivalisme, muncul kembali pemikiran baru yang mewarisi pemikiran fundamentalisme sekaligus mengoreksinya. Inilah yang disebut neofundamentalisme Islam. Mereka dapat beradaptasi terhadap kemodernan, tetapi tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam yang dianggap universal dan akan senantiasa mampu menjawab tantangan zaman2.
Di kalangan para cendekiawan, pemuda memiliki 3 amanah yang diharapkan menjadi tumpuan mereka dalam bergerak, yaitu social control, iron stock, dan agent of change. Ketiga amanah tersebut menjadi sebuah tumpuan yang tak dapat terelakkan kembali untuk dipertanggungjawabkan kepada para pemuda. Tetapi, kadangkala timbul pertanyaan yang membuat rasa kepenasaran semakin membuncah di antara segelintir orang yang belum memahami, ”Mengapa harus para pemuda?”
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sungguh, kalau saja kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (Al Kahfi: 13-14)
Dalam ‘Majmu’ah Ar-Rasail’ karya Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna, beliau mengemukakan setidaknya ada empat karakter yang senantiasa melekat pada diri pemuda. Perwujudan orientasi yang dimiliki pemuda akan terealisasi manakala ada rasa keyakinan yang kuat kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, senantiasa bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal serta berkorban dalam mewujudkannya. Karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tak lain hanya dimiliki pada diri para pemuda3.
Terjawab sudah pertanyaan yang sedari tadi menjadi persoalan. Itulah pemuda. Mereka identik terhadap perjuangan. Mereka seperti pusaran gelombang yang menggerakkan segala sesuatu. Mereka laksana ombak yang menerpa tembok ketidakadilan. Mereka layaknya pelangi, memberikan secercah harapan yang muncul setelah kegelapan menuju cahaya. Dan mungkin setiap apa yang telah ada di dunia tak terlepas dari peran serta dan kontribusi yang mereka ciptakan.
Begitulah para pemuda. Maka tak salah jika Presiden Soekarno menyatakan bahwa ia akan mengguncang dunia hanya dengan sepuluh pemuda. Karena sosok pemuda adalah kepribadian yang terintegrasi. Fase hidup yang selalu dinanti oleh setiap insan. Karena hampir semua hal yang akan didapat manusia dalam hidup ini terjadi dalam fase keremajaan. Tentu saja fase remaja merupakan indikasi awal yang menjadikan diri seseorang layak disebut sebagai seorang pemuda. Lebih jauh, pribadi seorang remaja yang sudah ditempa menjadikan dirinya patut disebut sebagai seorang pemuda. Kematangan akal dan fisik yang mereka dapatkan takkan ada yang bisa dinafikan oleh sesuatu pun.
Bertolak dari pernyataan yang telah disampaikan sebelumnya, seyogianya khalayak umum dapat memahami dan meyakini eksistensi para pemuda. Namun, beberapa tahun terakhir opini publik saat ini menimbulkan sedikit keraguan atas jati diri seorang pemuda. Mungkin disebabkan kebebasan pers yang melanda media berdampak sangat luas dalam memetakan persepsi dan pemikiran masyarakat.
Saat ini masyarakat berpandangan bahwa pergerakan dakwah mahasiswa pasca reformasi 1998 tidak menunjukkan eksistensinya secara nyata. Masyarakat menganggap pergerakan dakwah mahasiswa tahun-tahun terakhir ini tidak semasif dengan pergerakan dakwah mahasiswa di zaman pra reformasi. Inilah yang menjadi permasalahan utama. Opini seperti ini tersebar dalam kehidupan masyarakat secara luas. Ini dapat menimbulkan degradasi motivasi dan bahkan akan lebih mengkhawatirkan ketika terjadi disorientasi dalam pergerakan dakwah mahasiswa.
Padahal jika kembali ditelusuri perihal masalah ini, sebenarnya tidak semua pergerakan dakwah mahasiswa seperti apa yang dianggap oleh masyarakat. Walaupun secara kasat mata terlihat tidak semasif seperti yang terjadi pada zaman pra reformasi, pergerakan dakwah mahasiswa mulai memahami birokrasi manajemen organisasi dengan baik. Dahulu kebanyakan pergerakan dakwah mahasiswa berpusat pada pergerakan massa. Gelombang massa dijadikan tumpuan kekuatan utama. Namun, jarang ada yang memperhatikan persoalan administratif. Maka jadilah pengarsipan surat, dokumentasi kegiatan, hingga masalah AD/ART tidak sesuai yang diharapkan. Padahal seharusnya semua yang berhubungan dengan administratif dapat terselesaikan dengan baik.

Berbeda halnya dengan sekarang. Pergerakan dakwah mahasiswa saat ini dapat dikatakan lebih rapih pengorganisasiannya dibandingkan dengan pra reformasi. Lebih tepatnya terkait permasalahan manajemen organisasi, pergerakan dakwah mahasiswa sudah mengaplikasikannya dengan baik di lapangan dan tetap tidak mengindahkan gelombang massa sebagai salah satu kekuatan pergerakan.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaaf: 4)
Untuk itu sudah sepatutnya khalayak umum menyadari hal ini. Jangan pernah sama sekali menghilangkan eksistensi para pemuda. Mereka memiliki jiwa kepribadian dan karakter khas yang tak dimiliki seorang pun melainkan diri mereka sendiri.
Ada sebuah pertanyaan. Mengapa pergerakan dakwah mahasiswa tidak pernah terhapuskan eksistensinya dan selalu memiliki semangat juang tinggi dalam melakukan pergerakan serta selalu aktif dalam berpartisipasi dan berkontribusi bagi perkembangan kehidupan? Karena mereka memegang teguh idealisme yang mereka yakini bersama. Sejatinya tidak seorang pun atau sekelompok orang tertentu yang realistis dapat bergerak dalam kehidupan, melainkan ia atau mereka memiliki idealisme yang dipegang kuat dan diyakini hati dengan penjunjungan tinggi.
Saat ini pergerakan dakwah mahasiswa tengah melakukan konsolidasi yang begitu meyakinkan. Pergerakan dakwah mereka sudah merambah berbagai aspek kehidupan bermasyarakat seperti nilai dan norma sosial, budaya, perilaku, maupun pemikiran. Tak bisa dipungkiri, mahasiswa adalah penggerak dalam upaya revitalisasi kemaslahatan umat dan bangsa.
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali ‘Imran: 79)
Ayat Al Quran di atas menjadi penutup atas pembahasan yang telah berkepanjangan ini. Secara fundamental pergerakan dakwah, khususnya mahasiswa, memiliki hubungan terkait dengan makna tarbiyah. Tak dapat dipungkiri, pergerakan dakwah mahasiswa bermula dari arah pembinaan sepanjang hidup yang jelas untuk membentuk kader-kader dakwah yang mumpuni. Atau biasa disebut Tarbiyah Nukhbawiyah.
Dakwah dan tarbiyah merupakan dua konsep fundamental yang dimiliki agama Islam. Pergerakan Dakwah Mahasiswa pada dasarnya merupakan pengejawatahan dari pembentukan Rijalud Dakwah atau para aktivis dakwah. Ke depan pergerakan dakwah mahasiswa diharapkan tetap terjaga eksistensinya sebagai washilah atau media dalam pembentukan aktivis-aktivis kader dakwah yang siap menyongsong umat dan negara.
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al Anfal: 60)
“Akulah petualang yang mencari kebenaran. Akulah manusia yang mencari makna dan hakikat kemanusiaannya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif.
Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasia wujudnya, maka ia pun berseru, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan Semesta Alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’
Inilah aku. Dan kamu, kamu sendiri siapa?”4


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/10/23/23692/eksistensi-pergerakan-dakwah-mahasiswa-dalam-perspektif-al-quran-1/#ixzz3xmwcflGp


FORUM STUDI ISLAM (FOSI) 2020

  UKM LDF Al m udarris memiliki enam bidang yang masing-masing bidangnya menjalankan program kerja yang bermacam ragam , termas...