Translate

Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2020

FORUM STUDI ISLAM (FOSI) 2020

 

UKM LDF Almudarris memiliki enam bidang yang masing-masing bidangnya menjalankan program kerja yang bermacam ragam, termasuk di dalamnya Bidang Kaderisasi. Bidang Kaderisasi khusus melaksanakan program-program yang sifatnya internal, seperti pendataan dan pemberdayaan anggota. Selanjutnya bidang kaderisasi juga menangani kegiatan perekrutan anggota baru yang tertuang dalam kegiatan Forum Studi Islam (FOSI). Fokus dari kegiatan FOSI adalah pada perekrutan dan pembinaan, sehingga estafet dakwah di kampus FKIP Unsyiah dapat terus terlaksana.
Kepengurusan tahun ini pelaksanaan kegiatan FOSI dilaksanakan selama dua hari yaitu pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 7-8 Maret 2020 bertempat di Auditorium lantai dua gedung FKIP Unsyiah (Indoor) dan lingkungan kampus Unsyiah (Outdoor). Adapun tema FOSI kali ini adalah Eksplorasi Potensi Diri dengan Karakter Islami Menuju Generasi Rabbani dengan sasarannya adalah seluruh mahasiswa aktif FKIP Unsyiah, khususnya mahasiswa tahun angkatan 2017-2019.

Tujuan dari kegiatan ini antara lain yaitu:

  1. Memperbaiki pola pikir mahasiswa bahwa kuliah bukanlah sekedar belajar didalam ruangan.
  2. Membuka cakrawala mahasiswa tentang kondisi islam kontemporer, dan memberikan simulasi pemecahan masalah umat kontemporer.
  3. Menyediakan wadah dan sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri di bidang dakwah kampus.
  4. Membentuk generasi muda yang berlandaskan nilai-nilai dan perjuangan islam.
  5. Memberikan pemantapan kepemimpinan melalui Leadership Training kepada mahasiswa.


Kegiatan FOSI berbentuk pelatihan kepemimpinan, diskusi dan simulasi aksi. Pelatihan yang dilaksanakan adalah pelatihan kepemimpinan (Leadership Training). Diskusi yang dilaksanakan adalah diskusi terkait permasalahan dakwah kontemporer serta peran generasi muda islam dalam menyikapi hal tersebut. Simulasi aksi yang dilaksanakan adalah realisasi sikap dan perbuatan yang sesuai dengan materi kepemimpinan yang diberikan. Setiap kegiatan tersebut dibimbing langsung oleh trainer, ustadz dan pemateri yang handal. Berikut merupakan meteri yang sampaikan pada kegiatan FOSI 2020:

  • Materi 1: Mengapa harus ikut Almudarris? dengan Pemateri: Muhammad Nazar, S.Pd, MSCST 
  • Materi 2: Ukhuwah islamiah dan amal jama’i dengan Pemateri: Jalaluddin, ST., MA
  • Materi 3: Urgensi dakwah kampus dan kepemimpinan dengan Pemateri: Shibghatullah Arrasyid, S.Pd
  • Materi Outdoor: Semangat di jalan dakwh dengan Pemateri: Muhammad Dekar, S.Pd., M.Si




Muhammad Haris selaku ketua panitia tentunya berharap acara FOSI 2020 berjalan dengan lancar, sangat banyak waktu, pikiran bahkan tenaga untuk mempersiapkan FOSI. Mulai dari Open Recruitment dengan menjaga posko pendaftaran bersama panitia-panitia lain, wawancara, sampai pada hari H panitia tetap terus bekerja keras demi menyukseskan acara FOSI 2020. Tanpa ridho Allah Swt  serta dukungan dan sokongan dari alumni juga pihak-pihak lain yang tidak bisa di sebut satu-persatu tentunya FOSI 2020 akan tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Maulana Yusuf selaku penanggung jawab kegiatan sekaligus Ketua Umum UKM LDF Almudarris sangat berterima kasih kepada seluruh panitia yang sudah bersusah payah dan bekerja keras untuk menyuksesakan FOSI 2020. “sangat banyak potensi Almudarris kedepan, dari hasil tes wawancara yang dilalui oleh peserta FOSI bermacam ragam karakter yang saya temukan, seperti semangat yang tinggi, rasa peduli, rasa ingin tahu, rasa memiliki, rasa penasaran, bahkan mempunyai harapan yang nantinya akan menjadi seorang pemimpin di masa yang akan datang. Ini adalah semangat yang tidak boleh di sia-siakan” ujar beliau.
FOSI 2020 diresmikan/dibuka langsung oleh Bapak Dekan FKIP Unsyiah yaitu Bapak Prof. Dr. Djufri, M.Si. beliau juga mengatakan bahwa Almudarris mempunyai potensi yang sangat besar, sebab banyak jurusan yang terdapat didalamnya, sehingga apabila bisa dikombinasikan maka akan munculah ide-ide yang cemerlang yang tentunya dapat bermanfaat untuk orang banyak. Beliau juga menegaskan bahwa jadilah manusia yang mempunyai komitmen, janganlah seperti buih dilautan yang terombang-ambing tak tentu arah.


Alhamdulillah jumlah peserta FOSI 2020 yang terekrut sebanyak 235 orang, Insyaa Allah dengan banyaknya jumlah tersebut harapannya dapat terus berpartisipasi dalam setiap kegiatan Almudarris serta tidak ada kata mudur jika perintah dakwah sudah menyeru. Allahu Akbar!
Almudarris 1441-1442
Ikhlas tanpa tapi Dakwah tanpa nanti

Baca juga:

Minggu, 09 Februari 2020

NIKMAT SYUKUR

Khutbah Jum'at, 07 Februari 2020.
Masjid Jamik Kampus Kopelma Darussalam


          Ketika kita bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt, maka Allah akan menambahkan nikmat itu bagi kita. Tetapi ketika kita tidak mau bersyukur, ketika kita sombong dengan mengatakan bahwa hasil usaha itu adalah hasil dari keringat kita sendiri, ingat bahwa azab Allah itu pedih. Oleh karena itu bagaimana kita bersyukur diantara nikmat syukur adalah nikmat yang telah Allah berikan kepada anggota tubuh kita, dan diantara anggota tubuh yang sangat luar biasa itu adalah nikmat melihat, nikmat mata. kita dapat melihat ayat-ayat Allah, alam semesta dan sebagainya.
          Lantas bagaimana cara kita bersyukur terhadap nikmat mata atau penglihatan yang diberikan oleh Allah? Di dalam kitab Uddatussabirin, Imam Ibnu Qayyib pernah mengatakan ketika itu beliau mengutip pendapat dari pada Abu Hazem yang mana ketika itu dia ditanya, bagaimana yang dimaksud  dengan syukur kedua mata? Apa yang dimaksud dengan syukur melihat dengan kedua mata? Beliau mengatakan bahwasanya diantara syukur terhadap mata yang telah Allah berikan kepada kita, apabila engkau melihat kebaikan maka engkau ceritakan kepada yang lain namun apabila engkau melihat keburukan maka engkau menutupinya, itu di antara nikmat syukur yang harus kita syukuri.
          Ketika kita mendengar suatu kebaikan, maka kita ceritakan kepada orang lain dan kita bisa berbuat kebaikan-kebaikan. Namun ketika kita melihat keburukan atau tanpa sengaja kita melihat keburukan, maka jangan ceritakan kepada yang lain, kita tutup. Karena Rasulullah Saw pernah mengatakan dalam hadisnya “Barang siapa yang menutup aib seorang mukmin maka Allah menutup aibnya dunia dan akhirat”. Maka ini perlu kita perhatikan dan ada juga di antara kita diberikan ujian dengan tidak bisa melihat, bukan berarti Allah menghinakan orang tersebut, boleh jadi Allah memuliakan orang itu dengan tidak bisa melihat dan belum tentu kita yang bisa melihat ini lebih mulia daripada mereka yang tidak bisa melihat.
          Maka nikmat Allah ini yang perlu kita syukuri dan jangan sampai kita menjadi orang-orang yang buta. Buta yang bagaimana? Buta tatkala Allah membangkitkan kita di hari akhir nanti. Sebagaimana Allah telah berfirman “Siapa yang berpaling daripada peringatanku maka akan kuberikan kesempitan untuk nikmat dunianya. Tidak hanya itu, di hari akhir nanti dia akan dibangkitkan dalam kondisi tidak bisa melihat, dalam kondisi buta, dan dalam penuh kegelapan”.
          Lantas apa yang membuat kita di dunia ini bisa melihat namun di akhirat nanti kita akan dibangkitkan dalam keadaan buta? Dalam sebuah kisah tatkala Imam Ahmad bin Hambal beliau mengimami shalat, ketika selesai shalat ada seorang jamaah bertanya "ya Imam, berapa banyak orang yang salat hari ini?" lalu dia menjawab "hanya satu saja orang yang salat pada hari ini". lalu jamaahnya mendengar demikian mengatakan "wahai Imam, apakah kamu tidak bisa melihat banyak sekali orang yang salat? Apakah engkau sudah buta wahai Imam?" mendengar jawaban demikian Imam Ahmad bin Hambal beliau tidak tahu bahkan dia mendefinisikan siapa orang yang buta itu sebenarnya. Lalu dia mengatakan bahwa "orang yang buta itu adalah orang yang sujud dihadapan Allah yaitu orang shalat, akan tetapi ketika dilihat hubungannya dengan manusia dia takabur, dia sombong, menganggap dirinya paling hebat".
          Kemudian Imam Ahmad bin Hambal mengatakan lagi bahwasanya "orang yang buta itu orang yang shalat dan orang yang puasa, kemudian dia curang dalam jual belinya. Walaupun dia salat, dia puasa namun ketika jual-beli, dia curang dalam timbangannya, dia tidak memberikan hak yang penuh, maka dia termasuk orang yang buta. Lalu dia mengatakan lagi, orang yang buta itu orang yang bersedekah satu hari padahal dia mampu bersedekah setiap harinya. Berapa banyak nikmat yang Allah berikan kepadanya.
          Mengenai sedekah ini sangat luar biasa, Allah menyebutkan ada orang yang minta dan dia menginginkan ditangguhkan kematiannya agar dia bisa bersedekah. “ya Allah tangguhkan sebentar kematian saya”, untuk apa? agar aku bisa bersedekah dan bisa melakukan amal amal sholeh. Ingat sedekah termasuk bagian dari amal sholeh, tetapi Allah telah mengkhususkan bahwa sedekah ini merupakan keutamaan yang sangat luar biasa, maka ketika ada orang yang hanya bersedekah satu hari padahal dia bisa bersedekah setiap dari pada nikmat yang telah Allah berikan kepadanya maka dia termasuk orang-orang yang buta.
          Lalu beliau mengatakan lagi, orang yang buta itu orang yang senantiasa berdiri dihadapan Allah, dia salat tetapi hatinya selalu membawa sifat dendam, sifat marah, dan meremehkan orang muslim yang lain padahal Allah Swt mengatakan dalam Al-Quran surah Ali Imran Ayat 133-134 telah jelaskan, diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa yang berkaitan dengan habluminannas yaitu orang yang gemar membantu orang lain baik itu dia dalam keadaan lapang atau dalam keadaan sempit dan dia mampu menahan amarahnya, mampu menahan emosinya, dan mau memaafkan kesalahan orang lain, Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Ini merupakan ciri-ciri yang bertaqwa yang berkaitan dengan habluminannas. Maka ketika ada seseorang yang menghadap Allah tetapi di dalam hatinya selalu membenci kepada yang lain, selalu Mendendam kepada sesama muslim, dan merendahkan yang lain maka dia termasuk orang yang buta.
          Terakhir, Iman Ahmad bin Hambal mengatakan orang yang buta itu adalah orang salat,  salat itu tidak memberikan bekas apapun pada dirinya. dan di akhir percakapan tersebut Imam Ahmad bin Hambal mengutip salah satu ayat di dalam Alquran “barang siapa di muka bumi ini yang buta mata hatinya walaupun dia bisa melihat sehingga ketika dia mati dia akan dibangkitkan dalam keadaan buta dan dia termasuk orang-orang yang sesat”, dan ini Senada dengan firman Allah “barang siapa yang berpaling dari pada peringatan ku sesungguhnya akan kuberikan kesempitan untuk kehidupan dunianya, tidak hanya itu di hari akhir nanti dia akan dibangkitkan dalam keadaan buta lalu dia protes kepada Allah, Ya Allah kenapa engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta sedangkan aku di dunia ini bisa melihat, sedangkan aku tidak memiliki masalah dengan mata ya Allah, lalu Allah mengatakan telah datang peringatan-peringatan kami, telah banyak ayat-ayat kami tapi kalian meninggalkannya begitu saja, kalian melupakannya begitu saja, pada hari ini kalian termasuk orang-orang yang dilupakan”.
          Oleh karena itu kisah tersebut bisa kita ambil inti sari bahwasanya yang namanya ketaqwaan itu tidak hanya mengatur hubungan kita dengan Allah. Taqwa tidak ada kaitannya dengan hablum minannas, maka taqwa itu tidak hanya mengajarkan kita bagaimana cara ibadah salat, puasa, zakat, dan sebagainya tetapi taqwa ada kaitannya dengan muamalah kita. Bagaimana hubungan kita sesama kita, bagaimana hubungan kita dengan tetangga dan sebagainya. Banyak sekali ayat di dalam Alquran dan hadis rasulullah yang menceritakan tentang demikian.
          Diantaranya Rasulullah menyebutkan “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir maka dia jangan sakiti tetangganya. Maka ini menunjukkan hablum minannas harus kita jaga. Ketika kita mampu menjaga kedua hal tersebut, kita jaga ketaqwaan yang berkenaan dengan hablum minallah dan hablum minannas, maka insya Allah kita akan termasuk muslim yang benar-benar bertaqwa sebagaimana wasiat Jumat yang disampaikan.
          Bertakwalah kamu dengan sebenar-benar taqwa, bagaimana yang dimaksud dengan sebenar-benarnya taqwa? Ketika kita mampu menjaga hubungan kita dengan Allah dan ketika kita mampu menjaga hubungan kita sesama manusia. Ingat yang namanya taqwa juga dikaitkan dengan kematian. Insya Allah ketika kita mampu menjaga ketaqwaan tersebut, Allah pada akhirnya wafatkan kita pada keadaan yang terbaik dan pada keadaan husnul khotimah. Amin ya robbal alamin.

Baca juga:

Selasa, 10 Mei 2016

Antara Radikal, Liberal, atau Ramah ?

BERGULIRNYA gerakan dibarengi dengan tawaran tampilan ‘baru’ Islam. Mereka – pengusung liberalisasi – manamakan tampilan baru ini dengan tajdid (pembaharuan). Yang biasa ditampilkan adalah; toleransi, kasih-sayang, ramah dan lembut kepada semua manusia apapun agamanya, mengubah hukum, dan lain-lain. Pembaharuan –versi liberal – dilakukan dengan dekonstruksi (membedol) pokok-pokok agama.
Tampilan ini diusung dengan kesombongan. Kaum Muslim yang menolak dekonstruksi segera dicap; radikal, fundamentalis, kaku dan lain-lain. Kelompok yang toleran dan ramah hanya liberal. Sedangkan kelompok yang bukan barisan liberal adalah radikal dan keras. Benarkah?
Kesombongan hanya menggiring kepada kebodohan. Islam yang sempurna sejatinya tidak membutuhkan liberal. Juga tidak pula memerlukan bentuk radikal. Untuk menjadi muslim yang toleran tidak perlu menjadi seorang pluralis. Bersikap ramah kepada makhluk, baik Muslim maupun kafir tidaklah tepat harus menjadi seorang liberal.
Kerugiannya amat besar jika ingin menjadi seorang yang humanis, ramah, dan toleran sampai membedol syari’ah. Perkataan ‘Islam tanpa liberal pasti menjadi radikal’ hanyalah khayalan. Mitos yang tidak terbukti.
Islam sudah sempurna. Ajaran kebaikan apa saja dapat dicari dalam khazanah Islam. Dalil-dalil tentang toleransi, cinta, kasih-sayang, berakhlak, ramah, disiplin, kebersihan dan lain-lain cukup banyak. Ajaran sosial pun menumpuk dalam petuah-petuah Nabi Saw. Mulai adab kepada teman, tetangga, saudara, orang tua, guru, bahkan terhadap orang yang membenci kita ada etikanya. Jadi, Islam sudah tidak  membutuhkan ideologi-ideologi sosialis, marxs dan komunis.
Persoalannya adalah, terkadang kaum Muslimin mudah kagetan dengan pemikiran impor. Tidak percaya diri dengan khazanah keislamannya. Mental minder masih kuat. Mudah terprovokasi. Masalah lainnya adalah, ada sifat kemalasan untuk menggali kembali khazanah ‘emas’ Islam yang tertuang dalam turats-turash Islam.
Kita harus fahami, bahwa dalam dakwah Islam,  ada perintah untuk bersikap ramah dan ada perintah bersikap tegas. Kita lihat misalnya, Yahudi bani Quinuqa’ dan bani Nadzir pernah diusir oleh Nabi Muhammad Saw dari Madinah. Gara-garanya, mereka mengkhianati perjanjian. Bahkan, beberapa orang Yahudi dari bani Quraidzah dieksekusi karena ganasnya mereka memusuhi dan mengancam fisik para sahabat. Kecuali wanita dan anak-anak, mereka dilindungi dan diperlakukan dengan lembut. Inilah contoh sikap Nabi Saw yang tegas tapi sekaligus lembut (Sirah Ibn Hisyam jilid 3).
Beberapa di antara mereka juga dibiarkan hidup bebas di Madinah karena tidak tersangkut pengkhianatan. Nabi dan para sahabat pun melindunginya. Ada pula yang masuk Islam seperti Amr bin Sa’ad. Amr tidak termasuk kelompok yang melanggar perjanjian. Ia melarikan diri dari kaumnya dan mendapat perlindungan dari Nabi (Ibn Hajar, Fathul Bari  jilid 7 penjelasan hadis no. 475).
Sosok Abu Bakar al-Siddiq yang terkenal lembut dan ramah pernah bertindak tegas. Pada saat menjadi Khalifah pertama, nabi-nabi palsu seperti Tulaihah, dan Musailamah diperangi. Musailmah terbunuh oleh seorang budak bernamaWahsyi atas perintah khusus Abu Bakar. Nabi-nabi palsu ini diperangi karena melakukan penyesatan dan mengancam kaum Muslimin.
Abu Bakar memang terkenal ramah, tawadhu’ dan rendah hati, namun beliau tidak lemah menyikapi pelecehan agama. Seorang Yahudi bernama Finhas pernah dipukul oleh Abu Bakar karena Finhas memperolok-olok Allah Swt. Di depan beliau, Finhas mengejek sambil berkata: “Bukan kita yang memerlukan Tuhan, tapi Dia yang  memerlukan kita. Bukan kita yang meminta-minta kepada-Nya,  tetapi  Dia yang meminta-minta kepada kita. Kita tidak  memerlukan-Nya”. Sontak Abu Bakar memukul sekeras-kerasnya.
Dari kisah tersebut kita tahu bahwa dalam dakwah ada saat kita bersikap lembut dan ada masanya kita menunjukkan ketegasan, bukan kekerasan. Semua ada tempatnya masing-masing. Seorang da’i wajib tahu mana-mana tempat yang benar.
Apa yang dilakukan Nabi Saw yang mengusir orang Yahudi, dan Abu Bakar yang memerangi orang-orang yang menghina agama tidak dilakukan berdasarkan kebencian dan nafsu. Beliau juga tidak serta merta tanpa prosedur sebelumnya. Diberi peringatan terlebih dahulu dan diminta taubat kepada Allah Swt. Setelah itu baru ditindak. Sikap ini namanya tegas, bukan kekerasan.
Hasyim Asy’ari mewajibkan umat Islam Indonesia untuk membela agama Islam, berusaha keras menolak orang yang menghina al-Qur’an, dan sifat-sifat Allah Swt, dan memerangi pengikut ilmu-ilmu batil dan akidah yang rusak (KH. Hasyim Asyari, al-Tibyan, hal. 33). Kyai Hasyim menyeru bukan karena benci kepada para penista agama itu, justru sayang kepada agama, pemeluk agama, dan para pembencinya agar berhenti melakukan penodaan. Sebab, jika terus-terusan menodai Islam hingga mati, pertolongan Allah tidak didapatkannya.
Dalam interaksi muslim dengan non-muslim atau kepercayaan yang berbeda, Islam memiliki dua konsep penting; toleransi dan berdakwah. Toleransi (samahah) merupakan ciri khas dari ajaran Islam. Islam mempunyai kaidah dari sebuah ayat Al-Qur’an yaitu laa ikraaha fi al-dien(tidak ada paksakan dalam agama).
Namun bukan artinya tidak menyebarkan Islam. Tetapi, dakwah dalam Islam bersifat mengajak, bukan memaksa. Dari kaidah inilah maka ketika non-muslim (khususnya kaum dzimmi) berada di tengah-tengah umat Islam atau di negara Islam, maka mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam bahkan dijamin keamanannya karena membayar jizyah sebagai jaminannya.
Toleransi antar umat beragama dalam muamalah duniawi, Islam menganjurkan umatnya untuk bersikap toleran, tolong-menolong, hidup yang harmonis, dan dinamis di antara umat manusia tanpa memandang agama, bahasa, dan ras mereka. Allah berfirman (yang artinya), Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS. Al-Mumtahanah: 8-9).
Imam al-Syaukani dalam Fath al-Qadir berkata, bahwa maksud ayat ini adalah Allah tidak melarang berbuat baik kepada kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan umat Islam dalam menghindari peperangan dan tidak membantu orang kafir lainnya dalam memerangi umat Islam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak melarang bersikap adil dalam bermuamalah dengan mereka. Kafir dzimmi itu dilindungi karena taat pada kepemimpinan Islam dan tidak menyebarkan kesesatan kepada umat Islam. Bahkan umat Islam dilarang mendzalimi ahl al-dzimmi ini.
Namun tidak ada kompromi terhadap penyimpangan agama, penistaan atau pencampur adukkan agama atas nama toleransi. Jika ada penyimpangan dan penistaan – yang bisa memancing konflik sosial – Islam segera mencegahnya, tidak boleh dibiarkan.
Islam menjamin kebebasan beragama dan mengakui kemajemukan. Tempat ibadah non-muslim dan kepercayaan aliran lain tidak boleh diganggu. Islam juga terbuka membuka dialog-dialog cerdas. Namun, jika ada aktifitas dan gerakan publik menista kesakralan, aparat harus bertindak tegas. Sebab, masing-masing agama memiliki nilai kesakralan yang jika diusik memantik emosi pengikutnya. Segala bentuk penodaan dan pelecehan nilai-nilai sakral mestinya dilarang, apalagi digelar secara publik. Pengikutnya jelas memiliki hak untuk melakukan pembelaan.
Walhasil,wajah Islam itu tegas tapi tidak radikalis. Ramah tapi tidak liberalis. Toleran tapi tidak pluralis. Tidak ekstrimis, tidak juga liberalis. Ketika masuk khazanah Islam, maka akan kita temukan sikap tegas, ramah, toleran dan lain sebagainya. Semuanya dibungkus dalam Tauhid yang bersih.*
Penulis pengurus Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jawa Timur
(Source :http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2016/03/30/92082/wajah-islam-radikal-liberal-atau-ramah.html)

Kamis, 28 April 2016

Loss of Adab dan Kepercayaan Diri Muslim

SAAT ini ada suatu penyakit mental serius yang menjangkiti kaum Muslimin. Yaitu mental ketidak percayaan diri terhadapa Islam dan sebagai Muslim. Ini merupakan jenis penyakit hati. Perasaan diri minder sebagai Muslim ini tentu saja memang karena sudah kehilangan kebanggaan terhadap simbol-simbol Islam.
Di satu sisi, ada upaya simbol-simbol Islam distigmatisasi dengan pandangan buruk, rendah, anti kemajuan, bodoh dan lain sebagainya. Mau cerdas jangan fanatik agama. Ulama, kiai dan santri adalah kaum terbelakang. Pesantren itu kotor. Al-Qur’an mengandung ajaran radikal. Inilah contoh statemen-statemen yang dipaksakan untuk dipercayai Muslim awam.
Akibatnya, sebagian kaum Muslimin lebih bangga dengan memakai simbol non-Islami. Perasaan minder tersebut muncul karena individu yang mengalami inferioritas merasa Islam itu betul-betul mempunyai kekurangan. Sehingga, perlu mencari “pelengkap” dari ajaran lain.
Mental inferiority complex sudah menjadi kenyataan yang makin memprihatinkan. Baru-baru ini, seorang non-Muslim pimpinan partai sekuler disambut gegap gempita oleh ratusan santri di sebuah pesantren. Mereka menyambut dengan hangat bak seorang ulama kenamaan. Para santri putra-putri merunduk, mencium tangan tokoh partai itu. Ini bukan sambutan biasa seorang tamu yang datang ke rumah seseorang. Dia bukan sekedar tamu yang cuma mau sowan ke kiai.
Apa alasannya? Bandingkan jika seumpama yang datang itu adalah Pak Darmaji penjual tempe di kampung. Meski, umpamanya, dia rajin shalat jamaah, tahajud dan sedekah, dia tak akan mendapatkan sambutan apa-apa di pesantren tersebut. Karena dia orang tidak terkenal, miskin dan dianggap bukan orang penting.
Tetapi, si non-Muslim pimpinan partai sekuler ini mendapatkan sambutan meriah. Apa sebab? Karena dia pemimpin partai, orang kaya bos media televisi nasional, kaya raya dan lain sebagainya. Inilah penghormatan yang tidak beradab.
Dalam kitab Asna al-Mathalib III halaman 114 diterangkan etika menghormati seseorang dengan mencium tangannya. Kitab ini menjelaskan bahwa orang sholih, berilmu atau orang-orang yang dianggap baik dari segi agamanya (diniyyah) harus dihormati dengan mencium tangannya. Bahkan hukumnya sunnah. Sementara hukumnya makruh menghormati dengan mencium tangan seorang Muslim karena kekayaannya atau karena hal lain yang bersifat duniawi. Dikutip dalam kitab tersebut sebuah hadis: “Barang siapa merendahkan hati pada orang kaya karena kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga agamanya”.
Lantas bagaimana menghormati orang kafir dengan mencium tangannya? Ibnu Hajar mengatakan bahwa bagi seorang Muslim tidak boleh mengagungkan orang kafir dengan cara mencium tangan. Barang siapa yang melakukannya untuk memperoleh harta si kafir, maka dia merupakan pendosa yang bodoh (Ibnu Hajar al-Haitami,Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra).
Itulah adab. Menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukannya. Orang berilmu, ulama, orang sholih, bertakwa kedudukannya lebih mulya daripada orang kaya yang tak berilmu. Kedudukan ulama lebih tinggi daripada Presiden. Kita wajib menghormati seorang karena ilmu dan ketakwaannya kepada Allah Swt.
Begitu pula kedudukan seorang Muslim lebih mulya daripada orang kafir. Saudara Muslim harus lebih dihormati daripada orang kafir. Sebabnya, orang kafir tidak adab kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka menentang menentang hukum Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja pantas disebut bi-adab (tidak beradab) seseorang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.
Seharusnya, kaum Muslim menghormati seseorang karena keimanan dan ketakwaannya. Bukan karena jabatannya, kekayaannya, kecantikannya dan popularitasnya. Masyarakat yang beradab adalah mereka yang menghargai ulama dan aktivitas keilmuan. Tidaklah beradab, jika ulama dan aktivitas keilmuan dikecilkan. Sementara tokoh partai dan aktivitas hiburan diagung-agungkan.
Kita tidak boleh keliru, yang kaya dimulyakan, sedangkan yang berilmu dihinakan. Ilmu harganya jauh lebih mahal daripada harta dunia. Orang kafir dimulyakan, sedang orang Muslim dicela-cela.
Wajib hukumnya memulyakan seseorang itu karena takwanya, ilmunya dan keimanannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang termulia disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Coba simak riwayat dari Imam Bukhari berikut ini. “Seorang laki-laki lewat didepan Rasulullah, Rasulullah berkata kepada seseorang yang duduk disisi beliau, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Orang yang disisi Nabi itu menjawab, “Ia adalah oaring dari golongan terhormat. Demi Allah, jika ia meminang, ia pasti diterima; jika ia meminta bantuan, pasti dibantu.” Rasulullah SAW diam. Kemudian lewat orang yang lain. Dan Rasulullah pun bertanya kepada orang yang disampingnya tadi, “Bagaimana pendapatmu tentang yang ini?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, dia orang dari golongan muslim yang miskin. Jika ia meminang, pasti ditolak; jika ia minta bantuan, pasti tidak ada yang membantu; jika ia berkata, pasti tidak ada yang mendengarkan ucapannya.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Orang ini (yang miskin) lebih baik daripada bumi dengan segala isinya dan orang yang tadi (yang dari golongan terhormat).” (HR. Bukhari).
Nabi Saw mengajarkan kepada sahabatnya itu tentang adab yang benar. Bahwa penghormatan kepada seseorang itu harus didasarkan oleh keisalaman atau keimanannnya bukan karena hartanya.
Nabi juga mengajarkan supaya kita bangga menjadi Muslim. Karena Islam adalah agama satu-satunya yang diridhoi oleh Allah. Juga satu-satunya agama wahyu. Mestinya ini menjadi kebanggaan kita. Seyogyanya seorang mensyukuri nikmat dari Allah berupa agama Islam. Sikap bangga menjadi Muslim inilah yang tertanam kuta pada generasi emas pertama kaum Muslimin di masa Nabi Saw. Yaitu para sahabatnya. Sehingga, mereka menjadi umat yang mulya, umat yang disegani oleh berbagai kaum di dunia. Umat yang dengan bangganya menaklukkan raksasas dunia saat itu, yatu kerajaan Persia.
Seorang Muslim patut bangga dan bersyukur dengan Islamnya. Sebab Islam adalah agama yang telah terbukti mampu menjelmakan peradaban yang agung dalam sejarah. Adian Husaini mengatakan yang patut disyukuri kaum Muslim adalah Islam dalam kenyataannya bukan mengandung konsep yang utopia atau angan-angan di atas kertas belaka. Tetapi, Islam adalah konsep-konsep praktis yang bisa dan telah terlaksana dalam kehidupan. Islam kini bukan hanya menjadi nama satu agama, tetapi juga telah diakui sebagai nama agama dan nama peradaban (hadharah/civilization) sekaligus. Bahkan, peradaban Islam merupakan peradaban yang unik, karena dibangun di atas landasan ajaran dan pemikiran Islam (Islamic thought).
Penulis Barat, Wallace-Murphy, bahkan mengakui kehebatan peradaban Islam ini. “Kita di Barat menanggung utang kepada dunia Islam yang tidak akan pernah lunas terbayarkan” (Adian Husaini,10 Kuliah Agama Islam Panduan Menjadi Cendekiawan Mulia dan Bahagia,hal. 34).
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah mengajarkan untuk bersikap percaya diri kepada orientalis Barat. Karena, menurutnya, orientalis itu meski dalam kajiannya hanya tahu parsial tentang ilmu-ilmu Islam. Sedangkan kita memiliki pandangan yang menyeluruh terhadap ilmu keislaman. Orientalis yang ahli syariah, tidak tahu akidah. Sedangkan ulama memandang dari berbagai sisi; syariah, akidah, tasawuf, dan lain-lain. Maka sepantasnya seorang santri tidak minder berdiri di hadapan orientalis Barat.
Kata Nabi Saw “Al-Islam Ya’lu wa Yu’la alaih” (Islam itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari Islam) (HR. al-Baihaqi dan Daruqutni). Karena itu, umat Islam diserahi tugas mulya oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi untuk mewujudkan rahmatan lil alamin, memakmurkan bumi dan mewujudkan keselamatan bagi manusia.
Karenanya, sangat aneh jika seseorang minder sebagai Islam, tidak percaya diri dengan agamanya yang hebat. Lalu lebih bangga dengan orang asing non-Muslim, bangga memakai baju kafir dan merasa mulia memakai cara berpikir orang kafir. Pemain bola kafir dimulyakan, sementara Ulama diabaikan. Karena kehilangan adab (loss of adab) itu, akhirnya mereka menjadi tidak percaya diri sebagai Muslim.
Dalam Islam, adab terkait dengan iman dan ibadah kepada Allah Swt. Ukuran seorang beradab atau tidak ditentukan berdasarkan ukuran sopan santun sekedar menurut manusia. KH. Hasyim Asy’ari mengatakan; Barangsiapa yang tidak memiliki adab, maka ia tiada memiliki iman, tauhid (yang sempurna) dan tidak melaksanakan syariah (KH. Hasyim Asy’ari,Adabul Alim wa Muta’allim).
Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapakan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya.
Martabat ulama yang sholih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada Allah. Maka orang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepada penguasa yang dzalim daripada guru ngaji di kampung yang sholih. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memulyakan tradisi keilmuan.*/Bangil, 26 April 2016
Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya
(Via :http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2016/04/27/93884/loss-adab-dan-kepercayaan-diri-muslim.html)

Rabu, 27 April 2016

Salam dari Salim A.Fillah : Setia dan Berlepas Diri

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah"

Oleh: Salim A Fillah
 DALAM film Kingdom of Heaven garapan Ridley Scott, adegan menegangkan itu berakhir menakjubkan.
“Aku tawarkan kepadamu”, ujar Shalahuddin kepada Balian dari Ibelin, “Jaminan keselamatan bagi seluruh penduduk Jerusalem; Ratumu, Uskup, para Ksatria, pria, wanita, dewasa, maupun anak-anak untuk keluar dengan damai dalam pengawalan kami ke daerah aman yang dikuasai teman-teman Kristen kalian. Takkan ada yang diganggu atau disakiti.”
“Tapi”, sahut Balian yang setengah terkejut, “Ketika orang-orang Kristen merebut kota ini, mereka membantai semua penduduknya dan menjadikan jalanannya digenangi darah.”
“Aku bukan orang seperti mereka”, tukas Sang Sultan. “Aku Shalahuddin. Shalahuddin. Orang yang berkebaikan untuk memuliakan agama.”
Lebih lima abad sebelum Shalahuddin berdiri di tempat itu, seperti dikisahkan Imam Malik, sahabat Nabi yang digelari Aminu Hadzihil Ummah, Abu ‘Ubaidah ibn Al Jarrah, memimpin sahabat-sahabat Rasulullah yang membuat warga Nasrani di Al Quds berkata, “Mereka ini lebih utama daripada Hawariyyun murid-murid ‘Isa Al Masih.”
Ketika dia harus mundur dari serbuan Romawi di salah satu jabhah, dia meminta maaf kepada penduduknya sebab tak lagi bisa melindungi mereka. Orang-orang Kristen Syam itupun menangisinya dan berkata, “Kalian berbeda agama, tapi lebih kami cintai daripada orang Romawi yang seagama. Hidup di bawah pemerintahan kalian jauh lebih kami sukai daripada mereka.”
Hari ini kita sulit membayangkan bagaimanakah akhlaq generasi Abu ‘Ubaidah dan generasi Shalahuddin; yang bahkan membuat musuh terpesona. Hari ini kita mungkin harus bersabar lebih panjang; jika ternyata para pembebas Masjidil Aqsha nanti harus sekualitas mereka ini.
Ini kita belum menyebut bagaimana Sang Khalifah yang naik unta bergantian dengan Aslam budaknya, memasuki Kota Al Quds tepat ketika giliran sang Amirul Mukminin menuntun dan sahayanya berkendara. Patriak Sophronius dan warga kota ternganga akan kebersahajaannya, juga alasannya menolak ketika disilakan shalat di gereja, “Aku khawatir kelak orang akan mengubah gerejamu menjadi Masjid dan beralasan, “‘Umar pernah shalat di sini.”
Salah satu simpul keimanan dalam Islam adalah Al Wala’ dan Al Bara’. Al Wala’ dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, antara lain; setia, mencintai, menolong, mengikuti, dan mendekat kepada sesuatu. Sedangkan kata Al Bara’ antara lain menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri, dan berada di pihak serta keadaan yang berbeda.
Dalam syari’at, wala’ seorang mukmin kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang mukmin berarti setia, cinta, serta mengutamakan segala hal yang mendatangkan keridhaanNya.
Nah, yang sering kurang pas diterjemahkan adalah Al Bara’ sebagai semata-mata benci. Ya, di dalamnya memang ada unsur benci karena Allah. Tetapi tidak dikatakan memiliki Al Bara’ jika seseorang membenci orang kafir, tapi dalam perilaku dan akhlaq dirinya sama atau bahkan lebih buruk.
Sesuai maknanya, Shalahuddin dan Abu ‘Ubaidah meneladankan pada kita bahwa yang akan dirasakan manusia dari adanya Al Bara’ adalah betapa berbedanya antara seorang muslim dengan yang bukan dalam kejujuran, keadilan, sikap amanah, belas kasih, dan akhlaq mulia yang ditampilkan.
“I’m not those men“, ujar aktor Ghassan Massoud yang memerankan Sang Sultan. Di kalangan pesantren Salafiyah dikenal ungkapan, “Lastu kahaiatikum“, yang harfiahnya bermakna “Aku tak seperti polah kalian.”
Terang benderang tampak, mereka membantai, dia berbelas kasih. Mereka aniaya, dia adil. Jika ditambahkan tentang kedatangan ‘Umar; mereka bermewah, dia bersahaja. Mereka tercela, dia terpuji.
Maka jika Al Wala’ tak hanya berarti cinta, namun juga mendidik diri untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh yang tercinta, yakni Allah dan RasulNya; maka Al Bara’ juga menjadi sempurna dengan menunjukkan keunggulan imani dalam hati yang teterjemahkan dalam laku sehari-hari.
Pekerjaan Rumah kita untuk menghadirkan pemimpin dengan Al Wala’ dan Al Bara’sedahsyat Shalahuddin dan Abu ‘Ubaidah pastilah masih panjang. Tapi jangan hilang harap lalu bermudah-mudah dalam menyerahkan jutaan jiwa beriman pada yang tak berwala’ pada Allah dan RasulNya.
Ayat berikut ini tetap akan menjadi panduan kita, tiada yang membatalkannya; sebab memilih pemimpin shalih adalah hajat dunia akhirat.
لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ
Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian terhadap siksaNya. Dan hanya kepada Allah kembali kalian.” (QS Ali Imran [3]: 28).*
Twitter @Salimafillah
(Via : hidayatullah.com)

Senin, 22 Februari 2016

CORETAN KADER: KAWAN, LAWAN, ATAU KEPENTINGAN ?


KAWAN, LAWAN atau KEPENTINGAN?

Oleh : Zahratul Suci
Pernahkah kita merenungkan kenapa kita bisa berteman dengan seseorang? Karena dia baik, dia cantik? (bukan stiker iwan fals :D). Mungkin kita pernah membaca, di dalam al-Quran, Allah SWT menceritakan penyesalan manusia calon penghuni neraka di hari kiamat tiba disebabkan karena menjadikan seseorang sebagai kawan dekatnya yang membuatnya terperosok dalam neraka. Allah SWT berfirman:
يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan sebagai teman akrab(ku). Sesungguhnya ia telah menyesatkan aku dari al-Quran ketika al-Quran itu datang kepadaku.” (Q.S al-Furqan: 28-29)
Mereka pun saling menuduh dan menyalahkan, bahwa temannya itulah yang mengajak dan mendorongnya melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah SWT. Maka mereka --yang ketika hidup di dunia merupakan teman akrab, ketika tiba hari kiamat kelak menjadi musuh satu sama lain sebagaimana disampaikan dalam ayat lainnya. Allah SWT berfirman:

اَلْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu (datangnya hari kiamat), sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Zukhruf: 67)
Sadarkah kita selama ini persahabatan dengan motivasi kepentingan materi, atau manfaat duniawi lainnya, tidaklah akan kekal, bahkan tidak jarang masih di dunia pun sudah terjadi permusuhan. Yang dulunya berteman baik, ujung-ujungnya cekcok, dan saling membongkar aib. *truestory
Persahabatan yang kekal abadi adalah persahabatan antara sesama orang-orang yang bertakwa, persahabatan yang didasarkan pada landasan ketakwaan, bukan persahabatan yang didasarkan kepada kesamaan kepentingan duniawi, kesukuan, atau kebangsaan.
Persahabatan yang terbangun atas dasar Islam bisa dibuktikan dengan melihat sejauh mana kesesuaian mereka dengan syari’at Allah dalam menjalin hubungan.Kawan sejati adalah yang akan memberikan nasihat kepada sahabatnya, akan mengingatkannya ketika keliru, dan akan bekerjasama dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar di tengah-tengah manusia dapat dilaksanakan. Kawan sejati bukanlah kawan yang diam saja ketika sahabatnya menyimpang dari aturan Allah SWT.
"Pada suatu hari, ada dua orang pemuda sedang berkelahi, masing-masing dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Pemuda Muhajirin itu berteriak; 'Hai kaum Muhajirin, (berikanlah pembelaan untukku!) ' Pemuda Anshar pun berseru; 'Hai kaum Anshar, (berikanlah pembelaan untukku!) ' Mendengar itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dan bertanya:
مَا هَذَا دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ
'Ada apa ini? Bukankah ini adalah seruan jahiliah? ' Orang-orang menjawab;
لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا أَنَّ غُلَامَيْنِ اقْتَتَلَا فَكَسَعَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ
'Tidak ya Rasulullah. Sebenarnya tadi ada dua orang pemuda yang berkelahi, yang satu mendorong yang lain.'
Kemudian Rasulullah bersabda:
فَلَا بَأْسَ وَلْيَنْصُرْ الرَّجُلُ أَخَاهُ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا إِنْ كَانَ ظَالِمًا فَلْيَنْهَهُ فَإِنَّهُ لَهُ نَصْرٌ وَإِنْ كَانَ مَظْلُومًا فَلْيَنْصُرْهُ
“Tidak mengapa,hendaklah seseorang menolong saudaranya (sesama muslim) yang berbuat zhalim atau yang sedang dizhalimi. Apabila ia berbuat zhalim/aniaya, maka cegahlah ia untuk tidak berbuat kezhaliman dan itu berarti menolongnya. Dan apabila ia dizalimi/dianiaya, maka tolonglah ia!”(HR. Muslim dari Jabir r.a).
(Seharusnya) seperti inilah kita lakukan dalam setiap sisi kehidupan, siapapun teman kita, apakah dia miskin atau kaya, pejabat, penguasa ataupun rakyat jelata, persahabatan yang tercermin dengan sikap saling membantu dan memotivasi untuk berbuat keta’atan kepada Allah, dan saling mengingatkan dan mencegah dari pelanggaran syari’at-Nya.
Disisi lain ketika teman kita berbuat maksiyat, mengajak pacaran dan pergaulan bebas, melanggar aturan-Nya, memprovokasi umat untuk menolak syari’at-Nya, membuat aturan yang bertentangan dengan aturan-Nya, menggadaikan negeri ini kepada asing dengan kebijakan-kebijakannya, maka seharusnya sikap seorang sahabat adalah dengan mengingatkannya dan mencegahnya dari melakukan yang demikian tersebut, membiarkannya atau mensupportnya untuk berlaku dzolim bukanlah sikap seorang kawan sejati, bahkan ini adalah sikap yang akan mencelakakannya diakhirat kelak.

Kita memang harus siap berkawan dengan siapa saja --meskipun sebelumnya menjadi musuh kita-- jika Islam menghendaki kita harus bersatu. Sebaliknya, kita harus sanggup menjadikan siapa pun sebagai musuh kita --termasuk orang yang sebelumnya amat dekat dengan kita-- jika mereka menentang Islam, menghalangi dakwah, atau menyuburkan kemaksiatan, yang oleh karenanya Islam menghendaki kita menjadikannya sebagai musuh. Jadi, kawan dan lawan tak selalu abadi, namun kehendak Islamlah yang abadi, dan faktor itulah yang harus kita jadikan sebagai landasan dalam memilih kawan. Semoga Allah memberikan kawan-kawan sejati kepada kita, kawan yang bisa menjalani suka-dukanya kehidupan dalam langkah menggapai ridho Allah SWT.

Senin, 18 Januari 2016

Mengenal Maksud dan Pengertian Istidraj

Istidraj adalah kesenangan dan nikmat yang Allah berikan kepada orang yang jauh dari-Nya yang sebenarnya itu menjadi azab baginya apakah dia bertobat atau semakin jauh.

Sederhananya adalah, jika kita dapati seseorang yang semakin buruk kualitas ibadahnya, semakin tidak ikhlas, berkurang kuantitasnya, sementara maksiat semakin banyak, baik maksiat kepada Allah dan manusia, lalu rezki baginya Allah berikan melimpah ruah, kesenangan hidup begitu mudah didapatkan, tidak pernah sakit dan celaka, panjang umur, bahkan Allah berikan keluarbiasaan pada kekuatan tubuhnya. Maka, hati-hatilah bisa jadi ini adalah istidraj baginya, bukan karamah, secara beransur Allah menariknya dalam kebinasaan.
Yang seperti ini biasanya memang Allah berikan kepada orang-orang kafir dan ahli maksiat. Sebagaimana keterangan berikut:
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (Ali ‘Imran: 178)
Ayat lain:
Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (Al Mu’minun: 55-56)
Ayat lainnya:
Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan Perkataan ini (Alquran). nanti Kami akan menarik mereka dengan beransur-ansur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, (Al Qalam: 44)
Ayat lainnya:
Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (Az Zumar: 49)
Tertulis dalam Tafsir Al Muyassar tentang ayat Az-Zumar 49 ini:
ولكن أكثرهم -لجهلهم وسوء ظنهم- لا يعلمون أن ذلك استدراج لهم من الله، وامتحان لهم على شكر النعم
Tetapi kebanyakan manusia –karena kebodohan dan buruknya prasangka mereka- tidak mengetahui bahwa hal itu merupakan istidraj dari Allah dan ujian bagi mereka agar mensyukuri nikmat. (Tafsir Al Muyassar, 1/464)
Hal ini juga dikabarkan oleh hadits Nabi dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} [الأنعام: 44]
Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba berupa nikmat dunia yang disukainya padahal dia suka bermaksiat, maka itu hanyalah istidraj belaka, lalu Rasulullah membaca: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al An’am: 44). (HR. Ahmad No. 17311. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mentatakan: hasan. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 17311)
Begitulah istidraj.
Ada pun jika ada kenikmatan dunia diberikan kepada orang mu’min, shalih, ahli ibadah, bukan orang kafir dan ahli maksiat, maka itu merupakan nikmat Allah yang disegerakan baginya di dunia, atau bisa juga ujian untuk meninggikan lagi kedudukannya. Wallahu a’lam (farid/dakwatuna)




Rabu, 30 Desember 2015

PERBAIKI JADWAL SHOLATMU, AGAR ALLAH ATUR JADWAL HIDUPMU

Dibawah ini adalah tulisan Arief Budiman, CEO Petakumpet Advertising di Jogja, penulis buku 'Tuhan Sang Penggoda'. Kisah penuh nasehat dengan ending yang mengejutkan, juga intropeksi.. Kenapa hidup kita berantakan? Jangan-jangan karena jadwal shalat kita yang juga berantakan..

Selamat membaca!

***

"PERBAIKI JADWAL SHOLATMU, AGAR ALLAH ATUR JADWAL HIDUPMU"

Pada suatu hari di awal-awal saat memulai bisnis dulu, saya ketemu masalah seperti ini: saya janjian dengan 3 orang di Jakarta. Saat itu posisi saya di Jogja tanpa banyak kenalan di Jakarta dan cekak banget dananya.

Begini jadwalnya: Pak A janji ketemu hari Senin siang, Pak B hari Rabu pagi dan Bu C di hari Jumat sore. Jika saya mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta 5 hari dan pulang Jumat malam.

Sayanya yang bingung: nginep dimana, biaya makannya dimana? Duh ribet, padahal janjiannya udah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu Boss-boss semua untuk penawaran kerjaan promosi.

Saya harus mengikuti jadual mereka, saya tak kuasa menentukan jadual karena saya yang butuh.

Pusinglah saya memikirkan jadual yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya ketemu seorang teman, yang ilmu agamanya lumayan.

Karena belum menemukan solusi, saya pun curhat padanya. Teman saya mengangguk-angguk lalu bertanya, "Jadual shalatmu gimana?"

"Jadual shalat? Apa hubungannya?" saya keheranan.

"Shalat subuh jam berapa?" tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.

" Errr... Jam setengah enam, jam enam. Sebangunnya lah.. Kenapa," jawab saya.

"Sholat dhuhur jam berapa?"

"Dhuhur? Jadual sholat dhuhur ya jam 12 lah..." jawab saya.

"Bukan, jadual sholat dhuhurmu jam berapa?" ia terus mendesak.

"Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung Asar. Eh, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?" saya makin heran.

Temen saya tersenyum dan berkata, "Pantas jadual hidupmu berantakan."

"Lhooo.. kok? Apa hubungannya?" saya tambah bingung.

"Kamu bener mau beresin masalahmu minggu depan ke Jakarta?" tanyanya lagi.

"Lha iya, makanya saya tadi cerita...," saya menyahut.

"Beresin dulu jadual sholat wajibmu. Jangan terlambat sholat, jangan ditunda-tunda, klo bisa jamaah," jawabnya.

"Kok.. hubungannya apa?" saya makin penasaran.

"Kerjain aja dulu kalo mau. Enggak juga gak papa, yang punya masalah kan bukan aku...," jawabnya.

Saya pun pamit, jawabannya tak memuaskan hati saya. Joko sembung naik ojek, pikir saya. Gak nyambung, Jek.

Saya pun mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku buat berangkat yang emang mepet. Tapi sehari itu rasanya buntu, buntu banget.

Sampai saya berfikir, ok deh saya coba sarannya. Toh gak ada resiko apa-apa. Tapi ternyata beratnya minta ampun, sholat tepat waktu berat jika kita terbiasa malas-malasan, mengakhirkan pelaksanaannya. Tapi udahlah, tinggal enam hari ini.

Dua hari berjalan, tak terjadi apa-apa. Makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna.

Tapi pada hari ketiga, hp berdering. Dari asisten Pak A, "Mas, mohon maaf sebelumnya. Tapi Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi."

Di ujung telepon saya ternganga, bukannya jadual saya makin teratur ini malah ada kemungkinan di-cancel. Makin jauh logika saya menemukan solusinya, tapi apa daya. Karena bingung, saya pun terus melanjutkan sholat saya sesuai jadualnya.

Di hari berikutnya, hp saya berdering kembali. Dari sekretaris Pak B.

"Mas, semoga belum beli tiket ya? Pak B ternyata ada jadual general check up Rabu depan jadinya gak bisa ketemu. Tadi Bapak nanya bisa nggak ketemu Jumat aja, jamnya ngikut Mas."

Yang ini saya bener-bener terkejut. Jumat? Kan bareng harinya ama Bu C? Saya pun menyahut, "O iya, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi gitu, jam 9 bisa ya?"

Dari seberang sana dia menjawab, "OK Mas, nanti saya sampaikan."

Syeep, batin saya berteriak senang. Belum hilang rasa kaget saya, hp saya berbunyi lagi. Sebuah SMS masuk, bunyinya:

"Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup."

Saya makin heran! Tanpa campur tangan saya sama sekali, itu jadual menyusun dirinya sendiri. Jadilah saya berangkat Kamis malam, ketemu 3 orang di hari Jumat dan Jumat malem bisa balik ke Jogja tanpa menginap!

Saya sujud sesujud-sujudnya. Keajaiban model begini takkan bisa didapatkan dari Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habbits. Hanya Allah yang kuasa mengatur segala sesuatu dari arsy-Nya sana.

Sampai saya meyakin satu hal yang sampai sekarang saya usahakan terus jalani: Dahulukan jadual waktumu untuk Tuhan maka Tuhan akan mengatur jadual hidupmu sebaik-baiknya.

Karena saya muslim, saya coba konfirmasikan ini ke beberapa teman non muslim dan mereka menyetujuinya.

Jika dalam hidup ini kita mengutamakan Tuhan, maka Tuhan akan menjaga betul hidup kita.

Tuhan itu mengikuti perlakuan kita kepadanya, makin disiplin kita menyambut-Nya, makin bereslah jadual hidup kita.

Jadi, kunci sukses bisnis ke-3 yang saya bisa share ke teman-teman: Sholatlah tepat waktu, usahakan jamaah.

Jika mau lebih top, tambahin sholat sunnahnya: qobliyah, bakdiyah, tahajjud, dhuha, semampunya.

Silakan dipraktekkan, Insya Allah jadual kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan nyaman dijalani.

Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah 24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika kita tak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tak kemrungsung, tak buru-buru tapi tanggung jawab terjalani dengan baik.

Jika suatu hari saya menemukan jadual saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadual sholat saya.

Pasti disitulah masalahnya dan saya harus segera beresin sehingga jadual saya akan teratur lagi sebaik-baiknya. Seperti teman-teman sekalian, istiqomah alias konsisten menjalankan ini tentu banyak godaannya.

Tapi kalo gak pake godaan, pasti semua orang akan sukses dong. Jadi emang mesti tough, kuat menjalaninya, jangan malas, jangan cengeng.


***

Apa yang disampaikan pak Arief Budiman, sesungguhnya pengamalan dari hadits Nabi:

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

[Hadits Sahih riwatar Imam Tirmidzi, Imam Ahmad]


Sumber : facebook

FORUM STUDI ISLAM (FOSI) 2020

  UKM LDF Al m udarris memiliki enam bidang yang masing-masing bidangnya menjalankan program kerja yang bermacam ragam , termas...